Kicauan Entrepreneur Industri Kreatif (Part 1)

Sejak 2014 gue menjadi Creative Director di Cuatrodia Creative, sebuah studio/agency kreatif berbasis motion graphics di Jakarta. Sebenarnya sudah cukup lama gue memendam keinginan untuk bercerita soal manis pahit perjalanan gue dan teman-teman gue dalam mendirikan dan menjalankan sebuah studio kreatif, tapi entah karena tekanan pekerjaan yang banyak atau karena kurangnya motivasi (70% karena kurangnya motivasi) niat itu selalu urung dilaksanakan. Seperti perenang yang tidak cukup kuat melawan arus, gue berusaha mengumpulkan niat untuk menulis, hanya untuk kembali berhenti, diterpa oleh alasan ini dan itu.

Salah satu alasannya adalah gue tidak merasa “layak” untuk menulis ini seolah-olah gue seorang pakar atau “pentolan” di industri kreatif. Gue ga pernah kerja di agency, pengalaman gue minim, plus I am feeling quite insecure about my own capabilities.

Tapi itu tidak berlangsung terlalu lama, karena setelah gue pikir-pikir, there are too many success stories. The world is overly saturated with stories of those who make it big. The miracle cases of creative people who make millions of dollars and reach the top of the world, the one who got the golden eggs. We don’t have enough stories about the ones who try to make it day by day, month by month. Padahal, mungkin kisah tentang orang-orang biasa yang mencoba bertahan dan maju dengan kesempatan pas-pasan adalah kisah yang jauh lebih relevan bagi mayoritas kita. Karena mayoritas kita adalah orang yang otaknya pas-pasan, kesempatannya pas-pasan, modalnya pas-pasan. Kita tidak terlahir di era Rockefeller, era Gates dan Jobs, dimana sebuah generasi mendapatkan kesuksesan melalui kombinasi kemampuan, periode, dan lingkungan yang saling mendukung.

Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers menjelaskan bahwa kesuksesan itu banyak ditentukan oleh faktor eksternal yang tidak kita sadari. Pernah nyadar ga kalau Steve Jobs dan Bill Gates itu usianya sama? Ada alasannya. Coba baca deh bukunya. Sangat menarik.

Eh maaf jadi ngelantur.

Kebanyakan dari kita ya kayak gue ini. Lahir pas-pasan dan cenderung kekurangan, otak pas-pasan, pergaulan pas-pasan, kesempatan pas-pasan. Perhaps an insight as common as mine will be much more relatable.

Relatable. Kata ini yang menjadi kunci dari tulisan ini. Persiapkan dirimu. This is going to be long.

Awal Mula Segalanya

Setelah gue lulus dari DKV Binus tahun 2010, gue dan dua orang teman baik gue waktu itu berangkat ke Singapura dengan harapan besar akan mendapatkan pekerjaan. Kami bertiga termasuk lulusan dengan nilai yang cukup membanggakan di angkatan kami. Tugas akhir kami masuk dalam pameran tugas akhir Binus, sebuah pencapaian yang membanggakan.

 

41202_1560630382087_4370235_n
Circa 2010

Cowok bertampang bego di foto diatas adalah gue. Dua pria tampan lainnya adalah Bob dan Hebert, dua orang yang sangat berjasa membantu gue selama tugas akhir.

Singkat cerita kami semua mendapatkan pekerjaan, tapi gue harus menelan pil pahit karena Singapura tidak mengeluarkan izin tinggal buat gue. Ibaratnya lo udah jadian ama cewek, tapi bokapnya ga ngerestuin. Kira-kira seperti itu.

Sedikit kecewa (bohong, aslinya kecewa berat), gue pulang ke Indonesia dan mencari pekerjaan. Karena gue bego dan masih merasa sedih akibat impian yang tak tercapai itu, gue tidak melakukan riset cukup untuk arah pekerjaan yang ingin gue cari, sehingga gue sembarangan kirim lamaran. Seorang kenalan menyarankan gue lamaran ke sebuah stasiun TV yang kini sudah tidak tayang. Kalian tidak ada yang tahu nama stasiun TV itu, jadi tidak ada gunanya gue kasih tahu. Intinya, gue diterima.

551254_4504985149116_666836608_n
Di kala menjadi “budak korporat”, kalo kata people zaman now

Atasan langsung gue saat itu namanya Nuansa Agi Perdhana, ternyata kakak kelas gue di Binus, jurusan yang sama. Gue ga pernah ketemu dia sama sekali, dan baru kenal ketika diterima di kantor itu. Kebayang ga kupernya gue di kampus? Kalau engga, bayangkan aja gue pernah ditunjuk (secara sepihak) menjadi ketua forum komik di himpunan mahasiswa, dan berapa komik yang gue hasilkan? Nol.

Gue cupu banget.

Nah, Agi saat itu udah lebih dulu wara wiri di dunia freelancing, bekerja bersama orang-orang yang sekarang ini menjadi cukup tersohor di dunia kreatif, misalnya seorang sutradara yang sedang membuat film martial art. Gue diajak jadi timnya, dan singkat cerita, mulai dipercaya. Gue sering ikut dia ngerjain project motion graphic, dari iklan TV, video digital, sampai video klip. Gue jalanin itu semua seperti orang yang ga punya arah, ga tahu mau ngapain. Gue memang enjoy dengan kerjaan motion graphic, dan gue ngerasa lebih cocok dengan itu daripada animasi 3D. Tapi saat itu gue ga mikir-mikir amat mau kemana. Yang gue pikirin cuma gimana caranya dapetin duit, karena gue ngebiayain keluarga gue.

It went on for a while. Kami lembur bersama mengerjakan satu project ke project lain. Setelah dua tahun menjalani ini, Agi akhirnya menceritakan rencana besarnya. Ia mau mendirikan studio sendiri. Ia mengajak gue, yang karena pada dasarnya tidak ada rencana lain, menerima. Setelah itu Agi mengajak seorang temannya dari Jogja, namanya Ardi. Agi dan gue mengurus produksi, Ardi mengurus administrasi. Awalnya sesederhana itu.

And then the rest is a colorful history. Untuk saat ini, gue akan bercerita tentang hal-hal yang sangat berkesan dan gue pelajari di awal berdirinya kantor.

1. Istilah “Mulai Dari Nol” Itu Beneran

Gue sering berpikir bahwa televisi dan internet saat ini terlalu meromantisir about being an entrepreneur. Kehidupan kaum muda kota yang dinamis, sukses, you know, those kinds of things. Mungkin image itu terbentuk karena tren e-commerce dan startup digital, tapi di industri kreatif yang sifatnya jasa seperti produksi video, desain, not all of us can achieve that kind of magic moment where we become millionaires that fast. A lot of us crawl and pave our way piece by piece, and it takes years.

Kami memulai tanpa modal. Nol. Kantor kami pada dasarnya adalah kamar tidur Agi. Disana kami bertiga bekerja dengan laptop masing-masing. Hanya itu modal kami, dan juga relasi yang sudah dijaga oleh Agi sejak awal mula ia menjadi freelancer. Kami kumpulkan pendapatan dan sengaja menyisihkan cukup besar untuk ditabung sebagai modal. Akhirnya terkumpul cukup uang untuk menyulap salah satu kamar di rumahnya menjadi sebuah studio kecil yang nyaman.

mm1-e1429271504595
“Akhirnya gue punya kursi sendiri”

It was such a humble beginning. Kami tidak punya investor, tidak punya pemodal. Jujur, ada yang tertarik untuk memodali, tapi kami menolak, karena jumlah yang tidak substansial dan orangnya terlalu ingin ikut campur. Pada saat itu, kami memilih mandiri meski harus merangkak. If given that choice again, we will still choose the hard way. Unless someone came and say “You are starting a motion graphic studio? Here’s 100 million US Dollars”

Biasanya sih itu tidak terjadi.

2. Lo Akan Mengalami Banyak Kebimbangan, Tapi Nasib Akan “Memaksa” Lo Mengambil Keputusan

Seperti yang gue ceritakan, gue tidak sepenuhnya punya gambaran tentang apa yang ingin gue kerjakan di hidup gue. Yang gue sukai adalah menyanyi, dan cukup realistis gue menyadari gue tidak terlalu punya kans di dunia entertainment. Setelah beberapa tahun melalui pekerjaan ini, gue mempelajari bahwa terkadang jawaban kebahagiaan bukan mengerjakan apa yang kita sukai, tapi menyukai apa yang kita kerjakan. Pada saat itu gue belum paham akan hal ini.

IMG_6341
Percaya ga kalo gue bisa nyanyi?

Beberapa bulan setelah memulai, gue sempat lelah karena proses yang kami lalui terasa sangat berat. Project besar kami yang pertama, sebuah kesempatan langka, membuat kami harus bekerja mati-matian. Gue inget gue begadang selama sebulan di kantor, literally tinggal di kantor. Pulang ke rumah hanya untuk ganti baju dan mandi. Setelah project selesai, gue merasa energi gue terkuras habis.

I ended up quitting. Beneran. Gue capek banget secara mental dan fisik, dan memutuskan untuk keluar. Agi bagaimana pun juga tetap mengajak gue sebagai freelancer untuk project-project lepasan Cuatrodia saat itu. Karena gue belum menemukan arah dan tujuan selanjutnya, gue tidak menolak. Itu sebuah momen dimana gue seperti di dalam limbo. I don’t know where to go, but I certainly don’t want to stay where I was for long.

And I didn’t.

Pada sebuah project yang gue kerjakan bersama anak-anak, gue mengalami kecelakaan motor yang membuat segala hal berubah. Malam hari, hujan lebat, banjir, dan penglihatan yang buruk membuat gue tidak melihat ada lubang di jalan. Gue jatuh dari motor, dan tangan gue patah. Sambil menahan sakit di tangan kiri yang menggelayut seperti ranting hampir copot, gue mengirim voice message ke anak-anak. “Guys, gue kecelakaan. Tangan gue patah. Gue gak lagi becanda.”

Agi harus mengambil alih pekerjaan gue. Ardi langsung datang ke rumah sakit dan membantu mengurus semuanya, termasuk menghubungi orang tua gue. My life came to a halt. Selama hampir setengah tahun gue ga bisa menggunakan tangan kiri gue. Otomatis gue hanya bisa cari duit dengan mengajar di Binus sebagai dosen, sesuatu yang sudah gue lakukan sejak 2012.

bone
Circa 2014

Beberapa bulan berlalu, Agi berkunjung ke rumah dan mengajak gue kembali ke Cuatrodia sebagai tim inti. Kali ini, dengan peran baru. Melihat kesenangan gue membaca dan pengetahuan gue yang lumayan terhadap hal-hal tidak berguna, ia menawarkan posisi sebagai Creative Director. Which is kind of a weird reason. “Kalau kita bisa memberikan ide, kita tidak lagi sekedar menjadi eksekutor. Studio kita akan lebih berkembang.” Agi bilang begitu waktu itu. Gue tidak terlalu yakin akan diri gue, tapi yang jelas untuk kembali menjadi motion grapher, gue merasa udah tertinggal jauh.

I don’t know where this decision will take me, but I know where I’ll be if I stay like this. Di kepala gue waktu itu, hanya itu yang terpikirkan. Kalau gue ga ambil keputusan, gue begini-begini aja. Anywhere is better than staying there.

Dengan memikirkan orang tua dan keluarga yang membutuhkan nafkah, gue “dipaksa” oleh keadaan untuk kembali. That was a natural choice, and the best option I had. I don’t regret it. Kalau gue ga mengalami kecelakaan itu, mungkin gue akan melakukan hal lain sekarang.

3. Jago Desain/Ilustrasi/Animasi/Motion Doang Gak Cukup

Ada sebuah quote yang cukup lucu tentang memulai usaha. “Being an entrepreneur is like jumping off a cliff and building an airplane on the way down”. Menjadi pengusaha itu ibaratnya membangun sebuah pesawat terbang ketika lo lagi jatuh dari jurang. Ini sebuah perumpamaan yang menjelaskan bahwa ketika lo mulai usaha, lo practically learning by doing. Seringkali kita nekat maju (seperti kami) dan berharap keajaiban, namun nyatanya kami harus putar otak untuk membuat segalanya lancar. Dan percayalah, untuk orang yang baru terjun dan belum punya pengalaman, everything that can go to shit will go to shit. Murphy’s Law, baby!

Terdengar pesimis? Mungkin saja. Tapi ternyata ada banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan! Tidak saja hal-hal yang berbau produksi yang sudah awam kami hadapi seperti masalah teknis, manajemen waktu, alat kerja, aspek di luar produksi juga harus dipertimbangkan seperti negosiasi harga, membuat penawaran, pajak, sampai penagihan.

Disitu kita sadar bahwa sekedar jago dan punya passion saja enggak cukup. Produksi, ngedesain, nganimasi, itu semua hanya satu sisi dari banyak sisi lain yang membentuk sebuah studio. Banyak studio yang akhirnya tutup karena enggak bisa mengatur keuangannya, project masuk terus tapi enggak dibayar-bayar. Percuma kalau bisa bikin karya bagus tapi tekor karena kita tidak bisa mengantisipasi klien yang bayarnya suka telat. Operational cost jalan terus, kita ngucurin dana terus, nombok sana sini agar bisa jalan project, tapi dana yang masuk tidak ada.

mm1-e1429271504595
Ketika klien lo membalas dengan kalimat “Hah invoice yang mana ya?”

Seorang mahasiswa gue pernah iseng nanya ke gue, “Kak Calvin, kalau misalnya ga ada project masuk gimana dong?” Gue jawab, “Itu masalahnya. Jangan sampai ga ada project yang masuk.” Dia terdiam ngeliat gue seakan-akan gue mengatakan hal yang enggak masuk akal.

Ketika project mulai banyak dan kita mulai berani menyewa jasa vendor, potensi masalah muncul lagi. Bagaimana bila vendor mangkir? Bagaimana bila vendor tidak perform sesuai dengan ekspektasi? Bagaimana bila kita salah perhitungan dan mengalokasikan budget terlalu kecil sehingga vendor ga ada yang mau? Pusing men.

4. Di Awal Perusahaan Berdiri, Kemungkinan Lo Ga Bisa Jadi “Bos”

Ah, impian setiap orang yang memulai usaha. Bisnis udah autopilot, kita tinggal liburan ke Maldives, nanti duit masuk sendiri. Ah, seandainya seindah itu. Kita sering melihat teman-teman atau orang lain yang punya usaha sendiri dan hidupnya enak bener. Beberapa bulan sekali traveling, beli mobil baru, punya rumah baru.

Kita suka lupa kalau mereka sudah mencapai bab kesekian dalam perjalanan usaha mereka. Seorang teman kini usahanya sudah masuk tahun ketujuh, ia mulai sering traveling kesana kesini. Iseng gue bertanya, “Di awal usaha tujuh tahun lalu, lo bisa begini ga?” Jawabannya tepat seperti dugaan gue, “Boro-boro Vin. Gue sendiri yang kerjain semua, pontang panting kayak orang gila.”

The thing is, the first three to four years of your business will be tough as shit. Sometimes it takes more time, depends on your business.

Nah ini gue ngerasain sendiri. Kami berkomitmen untuk mengembangkan kantor dulu untuk lima tahun awal, sehingga sebagian besar dari pendapatan kami digunakan untuk operasional, produksi, pemeliharaan. Yang kami ambil sebagai gaji kami sendiri bisa dibilang sedikit. No Europe trip for a few years, boys!

Tidak hanya soal gaji, kami juga bekerja bagaikan kuda. Kami harus memastikan segala pekerjaan lancar, yang berarti kami tinggal di kantor lebih lama dari orang-orang lain, mengawasi jalannya pekerjaan. Setiap kali lembur kami selalu menemani karyawan yang bekerja. Bahkan sampai sekarang, gue masih ga tega kalau enggak nemenin karyawan pas mereka lagi lembur.

Ironisnya, gue sempat dicap workaholic. Gila kerja. Yaelah bro. Gue juga kalo bisa ga lembur mah ga bakal lembur. Tapi kalau misalnya harus lembur, ya harus dibikin hepi. Sambil nyemil kek, sambil dengerin musik, atau gimana. Kita tidak selalu bisa mengerjakan apa yang kita nikmati, tapi kita bisa belajar menikmati apa yang kita kerjakan. Orang yang kerja di bidang yang ia sukai aja masih bisa mengeluh. Kuncinya adalah bersyukur. Dan gue masih belajar sampai hari ini.

5. “Manajemen” Idealisme dan Belajar Kompromi Itu Penting

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” demikian kata Tan Malaka. Dalam konteks kita sebagai pekerja kreatif, ini kena banget. Ketika kita masih “muda”, sebagai desainer atau animator yang masih bau kencur, kita tidak suka karya kita dikomentarin, diubah, dan kita tidak sebisa mungkin ingin menjaga kemurnian ide yang kita bentuk dengan susah payah, hingga eksekusinya. Ada juga teman yang sudah senior tapi masih sangat idealis.

Idealisme dalam berkarya juga sebenarnya lebih luas. Lebih dari sekedar menolak revisi yang ga jelas, lebih dari sekedar kekeuh menggunakan warna tertentu, menggunakan gaya tertentu. Ada yang engga mau sama sekali mengambil kerjaan dari produk tertentu, ada yang engga mau sama sekali mengerjakan kerjaan dengan tenggat waktu yang sadis.

Salah ga sih kayak gitu? Ya, engga. Itu pilihan lo. Tapi siap-siap aja sih kalau klien males ama lo. Pada suatu titik lo bakal belajar untuk mengelola idealisme. Ya, mengelola. Karena karyamu yang ideal itu hampir pasti tidak akan terwujud kalau lo kerja di industri kreatif yang service based, dimana lo jualan jasa pembuatan desain atau video. Klien lo adalah pemegang keputusan terakhir, dan memastikan klien lo happy sambil di saat yang bersamaan idealisme lo terjaga, adalah sesuatu yang sulit sekali, seperti naik sepeda roda satu sambil juggling. Mungkin kok, tapi sulit.

Dua hal yang gue pelajari: (1) Bisa ga lo bedakan idealisme lo itu dengan egoisme? Sering banget apa yang lo anggap ideal itu sebenarnya wujud dari ego lo belaka. Lo engga mau direvisi karena merasa kerjaan lo uda bener, padahal klien lo sebenernya punya alasan yang rasional. Tapi lo terlalu “idealis” untuk mendengar. (2) Kita harus menjadi pemberi solusi. Ketika kita menolak atau tidak suka dengan ide klien, kita harus siap memberikan tidak hanya alasan yang masuk akal, tapi juga solusi yang bisa memuaskan. Misalnya, “Iya sebenarnya engga cocok kalau saya masukkan warna merah, tapi saya paham kok ini warna brand. Bagaimana kalau saya jadikan aksen saja? Tetap bagus kok.”

It pays to be diplomatic and tactful. Gue inget pernah presentasi bareng seorang creative director senior di sebuah agency. Gue masih kagum dengan cara dia menanggapi revisi klien yang ga masuk akal, “disetir” agar klien itu mengikuti arahan kita namun si klien merasa revisinya dikerjakan. That is brilliant. 

6. Uang Bukan Segalanya

Sa ae lo sempak kobra. Pasti itu yang muncul di pikiran lo yang membaca judul diatas. Yang namanya usaha itu mah income paling utama! Gile lu yak! Judul clickbait macam apa ini? But please hear me out. Memang benar income adalah fokus utama, tapi ada sisi lain yang tidak kalah penting. Kok bisa? Gue akan cerita pengalaman gue.

Project besar pertama yang kami terima berjasa memberikan suntikan modal yang membuat studio kami akhirnya punya ruangan yang proper. Singkat cerita, kami menang pitching dengan konsep yang gue kembangkan. Tapi pihak perantara dengan semena-mena memotong fee kami. Karena kami pada saat itu hanyalah studio baru yang tidak punya portfolio, tidak punya nama. Dengan fee dipotong sepertiga, kami memutuskan tetap maju dan mengerjakan sampai selesai, dengan susah payah.

Kenapa kami memutuskan mengambil project itu padahal fee dipotong sepertiga? Karena project itu menjadi portfolio yang sangat berharga. Bahkan hingga dua tahun setelah project itu selesai, banyak yang masih menghubungi kami untuk menawarkan project karena terkesan dengan project itu. Secara tidak langsung, project itu masih memberikan kami pendapatan.

Seorang director yang kebetulan adalah teman kami sempat bilang, “Ga ada ruginya bikin karya bagus. Ga ada untungnya bikin karya jelek.” Dan kami pegang terus ucapannya. Mungkin ada project yang nilainya besar tapi hasilnya tidak bisa dijadikan portfolio, yang lo dapatkan ya hanya nilai itu saja. Ada juga project yang nilainya mungkin tidak besar, tapi secara portfolio sangat berharga, dan menjadi promosi tersendiri untuk kita. Tergantung kita mau pilih yang mana.

7. Pilih Partner Dengan Hati-Hati. Extra Hati-Hati.

Gue bisa pastikan kalau memilih partner usaha itu sangat, sangat krusial. Mungkin hampir sama krusialnya dengan memilih pasangan hidup, karena kita harus menyelaraskan banyak hal. Dari masalah uang, pengelolaan, sistem kerja, dan banyak hal lain lagi. Kita butuh visi yang sama, impian yang sama, tujuan yang sama, dan tentunya kita butuh integritas. Ini akan gue ceritakan lebih jelas di lain waktu.

Dengan banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan, memang alangkah baik bila kita membangun sendiri, kalau memang kuat. Tapi gue enggak kuat. Agi enggak kuat. Ardi enggak kuat. Sehingga kami membangun bersama. Berantem enggak? Pasti. Tapi kami tahu, masing-masing kami tidak sempurna, dan kami berusaha untuk saling membantu dan mengisi kekurangan. Meskipun masing-masing kami punya tugas dan tanggung jawab sendiri, kami harus selalu siap untuk membackup satu sama lain. Ada kalanya Agi terjun membantu di bidang produksi, ada kalanya Ardi terjun membantu mengurusi timeline, ada kalanya gue terjun membantu mengurusi klien.

Konflik pasti ada, tapi kami belajar untuk tidak menjadikan setiap konflik sebagai urusan pribadi. Kami bisa saja berantem ketika membahas project, tapi setelah itu nonton bareng di bioskop. Penting sekali untuk bisa membedakan urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Sama pentingnya dengan kita bisa menempatkan diri kita di posisi yang benar. Agi adalah pemimpin di kantor, dan kami berdua tahu itu. Kami berdua tidak berusaha untuk melangkahi keputusannya atau pun membangkang. Order is necessary, or else we descent into chaos. Awalnya pasti ga semudah itu, karena namanya juga masih muda, usia masih kepala dua, ego masih kuat bercokol. Tapi lama kelamaan gesekan itu memudar kok, kalau kita tetap menanamkan dalam diri kita bahwa kebaikan perusahaan harus kita junjung.

Di sebuah seminar ketika gue masih mahasiswa, seorang praktisi senior berkata, “Orang muda yang buka studio bareng teman-temannya cenderung bubar. Soalnya semuanya ingin jadi boss.” He was right. Hierarki pengambilan keputusan harus selalu dijaga. Bila ada perbedaan pendapat, ungkapkan dengan kepala jernih. Bila tetap tidak ada kesepakatan, pemegang keputusan tertinggi is the one who has the final decision.

Gue beruntung punya partner yang solid. Kami memang tidak selalu sependapat. Kami saling berantem. Tapi kami tahu kami punya tanggung jawab masing-masing, kami masih harus saling belajar untuk menjadi lebih baik. Semakin lama, kekurangan-kekurangan dan gesekan itu semakin tidak berarti, semakin tidak penting untuk dibahas. Yang penting adalah bagaimana agar kita tetap bisa produktif, bagaimana agar perusahaan jalan terus, bagaimana agar bekerja tetap bisa nyaman.

“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.”

Semoga apa yang gue share ini bisa membantu, atau setidaknya menjadi bahan bacaan yang memberikan gambaran. I wish I can write something more hopeful, but I have to be honest. It is not always sunny, it rains too. And yet, I am still here. Kami memasuki tahun ketiga, dan pelan-pelan tantangan yang kami hadapi pun berubah bentuk. Di post berikutnya, akan gue ceritakan lagi yah.

 

Sampai Jumpa di Part 2

 

 

5 thoughts on “Kicauan Entrepreneur Industri Kreatif (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s