Review Film Coco

Sebagai pengajar (yang suka bolos) di sebuah universitas terkemuka di Jakarta (sebut saja Binus) di jurusan animasi, Pixar selalu menjadi sebuah tolok ukur studio animasi ideal. Bayangin aja, untuk menggarap sebuah cerita saja mereka membutuhkan waktu minimal dua tahun. Dua tahun. Cerita doang. Enggak termasuk produksi animasinya.

Tidak heran jika film-film Pixar selalu menjadi perbincangan dunia karena segala aspek dalam film animasi mereka dibuat dengan sangat baik. Cerita, musik, visual, semuanya digarap dengan mumpuni.

Setelah mengoyak-ngoyak perasaan gue dengan Inside Out dan menjawab pertanyaan “what if feelings have feelings?”, pada tahun ini Pixar mengeluarkan kembali sebuah mahakarya berjudul Coco. Kali ini, Pixar menjawab pertanyaan “what if Mexicans have feelings?”

Ay, mi corazon!

Oh ya, SPOLER ALERT!!

Coco bercerita tentang Miguel, seorang bocah Mexico dari keluarga pengrajin sepatu yang membenci musik, karena nenek moyang mereka adalah seorang musisi yang menginggalkan keluarganya. Miguel, ironisnya adalah seorang jenius musik, dan di tengah keluarga pembenci musik, ia merasa tidak memiliki tempat.

Disini jeniusnya Pixar. Mereka menciptakan konflik pertama yang langsung kena ke hati semua orang. Seringkali di sebuah keluarga, kita merasa terasing dan berbeda. Miguel, di tengah rasa kesepiannya, mencari pelarian ke sosok idolanya, yaitu mendiang Ernesto De La Cruz, seorang local hero dari kampung halamannya yang menjadi bintang musik terkenal.

Tema yang diusung oleh Pixar kali ini cukup sederhana: bahwa keluarga adalah hal yang terpenting. Tapi penyampaian dan turunan dari pesan itu jauh dari sederhana. Sangat, sangat kompleks. Bahkan mungkin, ini adalah film Pixar dengan runtutan pesan yang paling kompleks diantara semua film Pixar lainnya. Gue akan mencoba menjelaskannya.

Film secara cerdas mengarahkan penonton untuk memahami bahwa Miguel menemukan koneksi kepada musik melalui hubungannya dengan Ernesto De La Cruz yang ia yakini sebagai kakek buyutnya. Adegan setelah itu menjadi pemicu Miguel untuk “seize your moment”. Sebuah kata motivasi yang baik bukan? We’ll get there. Disini letak kejeniusan Pixar.

Poin pertama. Sepanjang film kita diarahkan untuk memahami bahwa ini adalah tentang Miguel menemukan jati dirinya sebagai musisi dengan mencari kakek buyutnya yang hilang, yaitu Ernesto. Dengan munculnya karakter-karakter pendamping seperti mendiang keluarganya yang lain serta si gelandangan Hector, kita dipercaya bahwa konflik yang disuguhkan memang untuk membangun ke pertemuan besar antara Ernesto dan Miguel.

Tetapi pertemuan Miguel dan Ernesto dan interaksi antara keduanya memberikan kesan bahwa tidak apa-apa kita meninggalkan keluarga kita demi musik, demi impian kita. Doesn’t sound too positive, does it? Itu adalah pandangan Ernesto. Sampai momen ini, nalar gue seakan berdering. Ada yang tidak beres. Sampai titik ini, belum ada antagonis yang muncul. Keluarga Miguel yang sudah meninggal seperti Mama Imelda mungkin memberikan rintangan bagi Miguel sepanjang usahanya untuk bertemu Ernesto, tapi mereka tidak bisa dibilang antagonis sepenuhnya.

Dugaan gue benar. Ernesto adalah antagonis yang sesungguhnya. Ini adalah twist pertama. Gue cukup bisa menebaknya. Sepanjang interaksi antara Hector dan Miguel, terlihat bahwa ada hubungan antara Ernesto dan Miguel, yang digambarkan secara abu-abu. Jelas, Hector bisa main musik. Tapi apa dia benar-benar teman Ernesto? Ketika Ernesto dan Hector bertatap muka, barulah ketahuan bahwa Ernesto meracuni Hector dan mencuri karyanya. Oke, sip. Pretty good writing, pikir gue. Ini momen yang mirip dengan film Up, dimana karakter heroik Mr Muntz ternyata menjadi antagonis.  Disini, Ernesto De La Cruz adalah kakek buyut yang tega meninggalkan keluarganya dan menjadi jahat demi ambisinya. Pesannya tersampaikan. Jangan gadaikan keluargamu dan moralitasmu demi kesuksesan.

Eit eit eit. Eit eit eit eit eit.

Bukan Pixar namanya kalau mereka enggak melampaui batasan mereka. Sutradara Lee Unkrich menyimpan kartu As. Sebuah twist kedua muncul. Dan yang ini lumayan nampol. Kita digiring untuk mempercayai bahwa foto yang sobek itu adalah Ernesto, karena gitar yang dipegang adalah gitar yang sama yang dipakai oleh Ernesto. Ternyata, Ernesto tidak hanya membunuh dan  mencuri lagu Hector, tetapi juga mencuri gitar Hector. Ya. Pria di dalam foto tua itu adalah Hector.

Mind. Fucking. Blown.

tim-and-eric-mind-blown
Representasi akurat isi kepala setiap orang di bioskop.

Ya. Penceritaan seperti ini yang membuat Pixar sangat sangat gue hormati. Mereka enggang tanggung-tanggung. Adanya dua twist ini membuat perasaan kita terlempar-lempar dan terguncang-guncang. Kapal oleng kapten! Air mata tumpah, dan kita keluar dari bioskop dengan membawa sebuah pesan moral: keluarga adalah yang terpenting.

Poin kedua, gue merasa setiap adegan dalam film ini tidak ada yang sia-sia. Dari awal cerita kita langsung dibawa menuju konflik sentral. Masalah keluarga yang tidak mendukung individualitas dari seorang anak. Setengah film kita melihat bahwa Mama Elena, Mama Imelda, dan anggota keluarga lain memegang peran antagonis, sebagai orang-orang yang tidak mendukung Miguel dan berusaha untuk menghalanginya mencapai impiannya. Setiap orang yang memiliki keluarga yang tidak suportif pasti bisa relate dengan kondisi ini.

Relatability memang salah satu senjata Pixar. Dimana pun setting cerita, kisah yang dibawa selalu sangat universal. Ini salah satu kunci dari penceritaan yang hebat. It’s all about human emotion, and human emotion is universal.

Pada akhirnya, ketika bola berpindah ke Ernesto sebagai peran antagonis, anggota keluarga Miguel berpindah menjadi karakter suportif dengan sangat mulus. Di ending cerita, kita melihat rekonsiliasi antara anggota keluarga ini. Tebak, apa yang menjadi penyatu mereka? Musik! Momen ketika Miguel menyanyikan Remember Me kepada Mama Coco menjadi sangat katarsis, membuat kutukan musik di keluarga itu hilang, menyatukan generasi yang terbentang jauh, menyelamatkan sebuah jiwa yang terhilang.

Ending yang sempurna.

Terlebih lagi adalah detil-detil dari cerita ini yang kalau kita tidak jeli, lolos dari pemikiran kita. Sadar gak kalau setiap kali Miguel menggunakan saran Ernesto “seize your moment” itu, dia selalu terkena masalah? Ketika ia mencuri gitar ia teleport ke alam lain. Ketika ia mencoba bernyanyi di pesta, ia jatuh ke kolam. Justru ketika ia mengikuti saran Hector, ia berhasil, seperti ketika ia tampil di panggung. Ini sebuah petunjuk kalau Ernesto bukanlah sosok mentor yang baik. Bukan seseorang yang seharusnya diikuti oleh Miguel.

Belum lagi ketika Hector bernyanyi untuk temannya yang sekarat, ia repot-repot mengganti lirik yang dewasa dengan yang lebih aman untuk anak-anak. Ini menunjukkan karakter Hector yang sebenarnya baik, meskipun tindak tanduknya seperti penipu rendahan. Atau ketika Frida Kahlo sempat mengira kalau Dante adalah alebrije? Ternyata benar!

Gue keluar dari bioskop dengan mata sembap dan dada yang sesak. Sedahsyat ini efek sebuah cerita yang digarap dengan matang dan cinta. Thank you, Pixar! and Bravo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s