Review Film Logan

Hello! Setelah absen cukup lama berkaitan dengan tumpukan pekerjaan dan rasa malas yang menghempas bertubi-tubi seperti pertanyaan “Kapan kawin?” di acara Imlek dan pernikahan sepupu, akhirnya ketemu juga sebuah momen dimana gue bisa menghela napas panjang dan mulai melemaskan jari jemari.

Sebenarnya gue bermaksud untuk menulis tentang lanjutan petualangan gue ke Jogja, tapi part 3 itu butuh masa yang tentram jauh dari keribetan pekerjaan. Walhasil, gue memutuskan untuk menulis review film saja! Berhubung gue barusan nonton Logan yang katanya bagus banget gila wadefak vin kenapa lo baru sempat nonton?????? maka gue duduk, mengambil semangkuk kecil bubur kacang hijau, dan mulai. Here goes.

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam industri perfilman Holywood masa kini, ada sebuah pakem untuk menciptakan trilogi. Prinsipnya biasanya begini: “Fool me once it’s your fault, fool me twice it’s my fault, fool me thrice you gotta be kidding me!” Dimana film-film trilogi cenderung susah mempertahankan kualitas. John Wick 1 dan 2 mendobrak pakem ini dengan sekuel yang lebih keren dan intens, tapi itu jarang terjadi. Seringkali sebuah trilogi itu ngawur, terutama di sekuel finalnya (uhuk) Spider-Man 3 (/uhuk) bisa menjadi sangat jelek karena pembuat film terjebak untuk membuat film menjadi lebih bombastis sampai kedodoran.

Jujur, trilogi Wolverine adalah yang termasuk ngaco lebih parah, karena dari film pertama aja, X-Men Origins: Wolverine udah katro abis. Perhatikan embel-embel “X-Men Origins” yang ketahuan banget studionya ingin menciptakan seri spin-off yang nantinya akan memunculkan banyak film baru seperti “X-Men: Gambit” atau “X-Men: Jubilee”. Yang kedua itu contoh yang buruk, ga ada yang mau nonton Jubilee. Nah X-Men Origins: Wolverine itu sampah banget, yang bagi gue adalah penghinaan terhadap  karakter Wolverine. Siapa yang punya ide goblok membuat masa lalu Wolverine ada kisah cinta super cheesy? Siapa yang punya ide brilliant bikin opening title yang menunjukkan sepak terjang Wolverine dan Sabertooth lintas masa di berbagai perang, tapi tetap goblok karena malah mengabaikan potensi cerita seperti itu? Siapa yang punya ide goblok membuat Deadpool jadi mutan dengan kemampuan gado-gado?

deadpool-wolverine-movie1-600x375
BNGST. GBLK. KZL

Somehow X-Men Origins: Wolverine balik modal, dan dilanjutkan membuat film kedua yaitu The Wolverine, dengan setting di Jepang. Film ini sedikit lebih baik, tapi tetap tidak cukup baik. Dari musuhnya yang tenyata cuma engkong-engkong Jepang berkostum Silverhawk, sampai adegan yang paling tolol dimana dia ditembak panah dan seakan lupa dia punya cakar super di kedua tangannya.

TW_RSP_VFX_10A
MAS ITU DI TANGAN LO ADA PISO GEDE-GEDE GOBLOK. POTONG ATUH TALINYA.

Ya. Hugh Jackman adalah aktor yang hebat, dan dia selalu maksimal dalam bermain sebagai Wolverine, bahkan ketika filmnya kacrut. Jadi gue sangat antusias ketika Logan diumumkan sebagai project terakhir Hugh Jackman, dan kali ini ratingnya dewasa. Sepantasnya begitu, karena Wolverine itu memang layak dibuat filmnya dengan appeal  untuk penonton yang lebih dewasa. Siapapun yang pernah main game X-Men Origins: Wolverine pasti mengaku kalau gamenya sendiri lebih bagus dari filmnya.

So there I was, sitting eagarly in a the movie theater, as the story unveiled. Cukup antusias, karena teman-teman mengatakan kalau Logan bagus. Yes! Seharusnya begitu! Sebagai hadiah perpisahan dari Hugh Jackman untuk fans, kita berharap filmnya bisa menjadi sebuah penutup yang manis. Manis dan berdarah-darah.

Mulai titik ini, review gue akan penuh dengan SPOILER.

Kisah dibuka dengan eksposisi yang keren. Disini digambarkan kondisi di masa depan yang tidak terlalu jauh, engga sampai kayak Days of Future Past (oh iya, peristiwa Days of Future Past seharusnya otomatis batal ya, sehingga masa depan di film Logan ini yang menjadi penggantinya). Melalui dialog antara Logan dan Charles Xavier, diketahui bahwa banyak mutan yang telah tiada, semua X-Men sudah mati. Hanya mereka berdua yang tersisa.

Film menunjukkan dengan sangat baik kondisi Logan. Ia sudah tua, lewat dari masa kejayaannya. Kondisi fisik sudah turun, cakarnya tidak berfungsi sebaik dulu, dan paling parahnya adalah: dia sudah tidak bisa sembuh secara instan. Dia tetap jauh lebih tangguh dari manusia biasa, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kondisi dia di trilogi X-Men. Jauh. Beberapa butir peluru yang bersarang di badannya butuh effort extra untuk dikeluarkan, dan langkahnya mulai terseok-seok. Matanya rabun. Logan benar-benar sudah tua. Hal ini digambarkan dengan sangat jelas, dan tidak hanya soal fisik. Kondisi mentalnya juga berpengaruh. Dia menjadi lebih sinis dan getir melihat kehidupan. Meskipun begitu, sisa-sisa kehebatannya masih terlihat ketika dia mencacah sekelompok begundal yang ingin mencuri velg mobilnya.

Di sisi ini, Professor X muncul menjadi peredam dan kontras yang baik untuk karakter Logan, dan interaksi mereka sangat menarik ditonton. Logan yang pahit disandingkan dengan Charles Xavier yang tetap optimis, tetap baik hati, walaupun secara fisik sudah renta dan mulai pikun. Hal menarik lainnya adalah, kepikunan Charles ternyata berakibat sangat buruk karena membuat kekuatan psikis yang ia miliki bermanifestasi tanpa terkendali. Ia benar-benar jompo, dan harus dirawat oleh Logan. Manusia super yang mulai pikun. Super pikun!

Sebelum lebih lanjut, gue ingin membahas soal background story mengenai kemusnahan para mutan. Film tidak menceritakan secara gamblang, tapi melalui kepingan-kepingan dialog dan berita radio, kita bisa menebak bahwa Professor X adalah penyebab banyak mutan meninggal! Gue menebak suatu hari penyakit Charles (mungkin Alzheimer, ALS atau sejenisnya) muncul untuk pertama kali dan membuat kekuatannya tidak terkendali, dan akhirnya membunuh hampir semua mutan. Kenapa Logan bisa hidup, gue ga tau. Tapi ini menjadi back story yang keren banget, karena membuat Professor X lebih kompleks. Ada rasa sesal, ada rasa sedih, dan sungguh kondisinya memprihatinkan. Dinamika hubungannya dengan Logan terasa sekali. Hubungan Logan dan Charles mungkin menjadi “kompres” yang meredam momen-momen tegang di film ini, membuat filmnya terasa lebih seimbang.

Dengan Logan sebagai pengurus Charles yang harus menyambung hidup dengan cara menjadi supir limo, dibantu oleh mutan tobat Caliban yang sungguh malang nasibnya, kondisi yang menyedihkan ini berlangsung selama beberapa waktu. Yang menarik simpati di luar dugaan sebenarnya Caliban. Di X-Men Apocalypse, Caliban hanya mutan biasa yang tidak menjadi elemen cerita yang cukup signifikan. Di Logan, Caliban menjadi karakter kunci yang cukup tragis. Dengan rela menampung Logan dan Charles, bahkan mendapatkan abuse dari Logan melalui kata-kata pedas dan perlakuan kasar. Belum lagi kejang-kejang Charles yang berpotensi membunuh mereka. Caliban you poor thing.

Insiden yang membuat cerita bergulir dimulai dengan kehadiran Laura dan pengurusnya, Gabriela,.yang ingin kabur dari perusahaan Transigen yang menciptakan mutan-mutan cilik untuk dijadikan mesin tempur. Ha. Tipikal. Mereka memang tidak pernah belajar dari pengalaman.Semua orang juga tahu kalau mau bikin prajurit itu paling bener ya bikin AI super yang bisa perang sendiri tanpa menggunakan tenaga manusia.Nah, kehadiran Laura dan pengurusnya menjadi bola salju yang bergulir menjadi raksasa dan mengubah hidup Logan, Charles, dan Caliban.

Di momen ini, gue pikir banyak orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak akan mengacungkan jari telunjuk mereka sambil nyeletuk, “AHA!! Bener kan, punya anak itu sumber bencana!”

Logan yang memang butuh uang untuk membeli sebuah kapal dan memboyong Charles dan Caliban agar tinggal di laut luas (si goblok, Caliban itu albino yang ga tahan cahaya, lo mau boyong ke laut? Lo goblok, kaga mikir apa, kasian banget si Caliban, ga dipikirin gitu nasibnya), terpisah dari kehidupan, terpaksa menerima tawaran dari Gabriela. Di saat yang sama, Pierce, seorang preman suruhan Transigen, mulai melacak Laura dan hal itu menggiringnya ke Logan, yang diyakini menjadi harapan terakhir Laura.

But why Logan, of all people?

Jawabannya sederhana. Pada awalnya, sudah diketahui bahwa mutan alami sudah punah. Mutan yang tersisa mungkin hanya tinggal Logan, Caliban, dan Charles. Jika ada yang bisa menolong Laura, maka itu adalah sesama mutan yang dikenal sebagai orang-orang baik! Hal ini dijelaskan dengan sangat baik, menurut gue, melalui eksistensi komik-komik X-Men di dunia itu. Itu berarti, pada suatu masa, X-Men adalah kelompok yang punya reputasi legendaris, dan sangat disukai masyarakat. Itu berarti, di timeline Days of Future Past dimana Mystique batal membunuh Trask, Charles berhasil memimpin para mutan hingga mereka menjadi cukup terkenal dan dicintai, bahkan menjadi ikon. Luar biasa.

Dan tentunya, semua ini menjadi sirna dan tidak berarti di zaman Logan sudah tua. Anjrit. Pahit banget. Ga heran Logan jadi pria tua yang sedih dan depresi.

304398_074
ALL MY FRIENDS ARE DEAAAAAAAAAAAD. MY FIRST TWO MOVIES ARE SHIIIIIIIIIIIITTTT.

Akhirnya keberadaan Laura tercium oleh Pierce. Ia dan gerombolan cowo-cowo Call of Duty Infinite Warfare pun menyerbu tempat tinggal Logan, setelah sebelumnya membunuh Gabriela. Logan yang awalnya tidak peduli dengan Laura akhirnya ternganga ketika melihat bahwa gadis cilik itu.ternyata mengintil sampai ke tempat tinggalnya, terlebih ketika mengetahui bahwa Laura adalah mutan yang memiliki kekuatan yang sama persis dengan dirinya. Selain itu, Laura dapet adamantium pula, walaupun gue cukup yakin adamantiumnya KW, karena proses pasangnya kayak operasi biasa, bukan dicelup di dalam tangki kayak Logan dulu. Tapi Laura dapat cakar tambahan di kakinya. Mungkin ilmuwan Transigen dulu kebanyakan nonton film silat Tiongkok yang nampilin pendekar wanita menyembunyikan pisau di sepatu. Bisa jadi.

Kemunculan Laura mendorong cerita ini menjadi sebuah road trip movie yang seperti khas film-film tipe ini, menjadi sebuah kisah tentang penemuan jati diri. Ya. Ini adalah film seperti ini, tentang bagaimana di usia senja dan sirnanya tujuan hidup Logan, masih ada hal yang bisa ia lakukan untuk membuat hidupnya berarti. Hal ini disampaikan oleh Charles dengan sangat menyentuh ketika mereka bermalam di rumah keluarga Munson. Bagi gue sendiri, momen itu sangat bagus karena penonton beristirahat sejenak  dari adegan-adegan sebelumnya yang penuh dengan tension dan adegan berantem. Sebuah momen yang indah, penuh canda tawa dan kehangatan. Sesuatu yang membuat penonton tersenyum melihat interaksi meja makan antara Logan, Charles, dan Laura. Singkat, namun manis.

Tentunya setelah itu semuanya kembali berdarah-darah dan anjrit X-24 muncul dan menusuk Charles ketika ia sedang curhat. BANGSAAAAAAAAAAAAAAT. Untuk beberapa saat gue melongo, dan baru sadar bahwa itu bukan Logan. Itu adalah kloningan sempurna Logan pada masa kejayaannya, minus empati dan rasa kemanusiaan. Sebuah mesin pembunuh yang bengis, penuh amarah, dan kejam. Sangat kejam.

Mau enggak mau, gue jadi sedikit sedih melihat betapa di film-film X-Men sebelumnya, potensi Wolverine enggak keluar sama sekali. Rating R memberikan nuansa baru kepada adegan-adegan aksi disini. Brutal, sengit, dan liar. Muka orang dicoblos disana-sini, anggota badan dipenggal, darah menetes. Logan terlihat seperti beruang mengamuk, Laura seperti monyet cilik yang sangat menakutkan.

Poin ekstra sebenarnya harus diberikan kepada Will Munson yang setelah melihat keluarganya habis dicoblos oleh X-24 (dirinya pun kena tebas) masih bisa menabrak X-24 sampai ia jadi tercolok ke batang pohon, kemudian mengosongkan seisi Shotgun ke kepalanya. Keren banget, pada akhirnya manusia biasa bisa menghentikan mutan kuat. Tapi poin yang sebenarnya keren adalah ketika Will menarik pelatuk ke arah Logan yang pasrah. Disitu ada dua hal menarik. Satu, Logan yang merasa sangat bersalah dan diam saja ketika ia mau ditembak. Dua, Will terlihat – walau ini hanya sepersekian detik – menyesali perbuatannya hendak menembak Logan, ketika shotgunnya habis peluru. Disana terlihat momen dimana Will seakan tersadar dari amukannya, bahwa ia baru saja mencoba menembak seseorang yang sebelumnya ia sebut “teman”. Sentuhan yang bagus.

logan munson prof x charles patrick stewart 2017
Sebelumnya mereka terlihat sangat bahagia. Dan hidup.

Seperti layaknya sebuah perpisahan yang getir namun mengharukan, dua karakter sentral di franchise X-Men pun mengucapkan selamat tinggal yang sukses mengaduk perasaan gue seperti blender di kios Quickly di mall-mall. Logan yang berkali-kali mengucapkan “Bukan aku” kepada Charles yang sekarat sukses bikin gue mau nangis. Ditambah lagi ekspresi nestapa Logan setelah menguburkan Charles, yang bahkan enggak bisa mengucapkan satu kalimat saking sedihnya. Hugh Jackman benar-benar memberikan totalitas. Momen paling mengguncang hati tentunya ketika Laura dengan suara kecilnya memohon “Daddy..” kepada Logan yang sudah sekarat, yang dengan lirih berkata “Jadi ini rasanya..” Men. Cukup sudah. Cukup sudah. Ga ngerti lagi hati ini.

Setiap film yang baik harus memiliki character arc, dimana ada sebuah perubahan mendasar yang terjadi kepada karakter utama. Ada perubahan pada cara si karakter memandang dunia, pada kehidupannya, pada pola pikirnya. Dan Logan salah satu film yang berhasil dengan gemilang. Pria tua yang sinis dan pahit akhirnya menemukan sebuah tujuan pada akhir hidupnya, menemukan sedikit cercah kebahagiaan, dan memberikan segalanya demi seseorang. What an ending.

Tentunya, film ini bukannya tanpa cela. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu gue, misalnya motivasi Caliban yang bagi gue kurang kuat untuk dia menjadi seorang karakter yang rela begitu saja membantu Logan dan Charles. Sedikit tidak masuk akal. Tapi, itu semua termaafkan. Logan tetap menjadi sebuah farewell yang baik bagi Hugh Jackman dan Sir Patrick Stewart.

Beberapa poin yang sebenarnya random tapi gue ingin sebutkan sebagai honorary mention:

  1. Akting Sir Patrick Stewart keren banget, terlihat dari dialog-dialog dan bahasa tubuhnya. Favorit gue adalah ketika dia menggunakan sedikit sisa kekuatannya untuk menenangkan kuda.
  2. Adegan ketika Charles kejang pas lagi diserbu anak buah Pierce. Logan buru-buru balik ke hotel dan mencoblos satu per satu anak buah Pierce yang lagi ga bisa gerak tapi sadar total. Bayangin ada mutan super seram lagi tusuk-tusukin temen lo satu per satu dan lo berikutnya. Aje gile.
  3. Kematian Caliban. “Beware the light.
  4. Plot twist yang menunjukkan bahwa Eden adalah tempat khayalan yang dilihat dari komik X-Men. Tapi makes sense kalo dipikir-pikir. Para pelarian sengaja menggunakan koordinat itu untuk membuat persembunyian, karena pasti semua orang mikir kalau bocah-bocah itu pada menghayal. Eh taunya beneran ding ada tempatnya. Brilliant. Siapa yang nyangka?
  5. Mas-mas minimarket yang dibanting Laura itu agak mirip Quicksilver yang di Marvel Cinematic Universe ga sih?
  6. Suara Laura yang cempreng itu lucu banget!
  7. Ada yang tahu nasib bapak-bapak pemancing ikan yang mobilnya dicolong Laura?
  8. Pas di hutan, ketika Laura terpojok dan meraung, suara raungannya tertutupi oleh sebuah raungan yang jauh lebih keras dan mengerikan. Logan is back, baby, and he is pissed!

Sebagai penutup, gue menemukan sebuah artwork indah. Enjoy!

4b39678a7cb0a3cea312327b313bd63b-db18z3i
Sebuah fanart yang indah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s