Jogja 2016: Seputar Kota Pelajar (Part 2)

 Baca Part 1 Disini

Di postingan sebelumnya gue udah mengupas tentang bagaimana empat orang yang bertemu oleh suatu kejadian (kejadian yang sungguh luar biasa brengseknya, mungkin akan gue ceritakan suatu saat nanti)  akhirnya berteman baik. Kami memutuskan untuk traveling ke Jogja dan menikmati momen-momen sebelum Lebaran dimulai dan kami akan kembali terpisah.

Sebelum kita lanjutkan, bagi yang malas membaca entry sebelumnya dan hendak langsung saja, ya sudah gue tampilkan lagi tokoh-tokoh selain gue yang mengisi cerita ini.

profil
Evan, you adorable doofus.

Setelah berjalan kaki sepanjang 8 kilometer dari Tugu ke Seturan, kami sampai di tempat tinggal kami menjelang subuh. Alamak. Badan kami semua lengket seperti kue lemper baru jadi. Setelah melalui perdebatan mengenai ada atau tidaknya kecoa di dalam toilet, kami selesai bersih-bersih dan terlelap dalam tidur singkat yang diwarnai oleh betis yang panas karena dioles balsem otot.

Pagi sudah terang tanda menjelang siang ketika kami terbangun, dan itinerary yang disusun oleh Fanny mendikte perjalanan kami berikutnya sebagai tiga orang pecinta seni: ArtJog 2016! Setelah sarapan di warung indomi di dekat rumah, kami meluncur.

ArtJog 2016 adalah sebuah pameran karya seni di Jogja National Museum. Salah satu agenda utama kami ke Jogja memang untuk melihat pameran itu. Dan bahagianya, kami tidak kecewa sama sekali. Ada 72 seniman yang karyanya dipamerkan, dan mayoritas seniman lokal.

dscf5762
Itu pintu masuknya. Kami harus melompat melalui baling-baling yang berputar. Ini foto terakhir Fanny sebelum dia beteriak “Doakan saya ya!” seperti peserta Benteng Takeshi.
dscf5765
SAYA TIDAK BERCANDA. INI BENERAN KARYA SENI. DEMI PACARKU YANG TAK KUNJUNG MUNCUL. INI KARYA SENI. LOKASINYA DI DALAM GEDUNG PAMERAN. BENERAN.
dscf5827
“Kamu mau apa?” Ketika Salvador Dali ketemu Georges Melies. Karya Garin Nugroho!
dscf5788
Akibat mencoba memahami isi hati wanita

Untuk menikmati lebih banyak lagi hasil kunjungan ke ArtJog 2016, gue udah siapin foto-foto di dalam slideshow di bawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

ArtJog terbukti sangat memuaskan! Setelah beberapa jam mondar mandir, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke lokasi lain, yaitu istana air Tamansari! Sebagai pecinta sejarah, gue sudah tidak sabar untuk mengunjungi tempat yang katanya menjadi pemandian selir-selir raja.

Perjalanan dilanjutkan dengan becak, agar feel tradisionalnya lebih dapet. But we’re grown-ass people sehingga kami harus memuat-muatin pantat kami di dalam becak yang sempit. Tidak apa-apa. Semilir angin menemani perjalanan yang riang, walaupun kami harus teriak-teriak sedikit ketika ngobrol.

img_7774
Disajikan dengan filter hitam putih agar terkesan otentik. Halah.

Sesampainya di Taman Sari, ada sedikit kekecewaan melanda karena ternyata kami sudah tidak bisa masuk ke dalam area kolam. Waktu berkunjung sudah habis, katanya. Tapi tidak apa-apa, karena warga sekitar mempersilahkan kami untuk masuk melalui jalan setapak dan melihat dari sisi lain. Setidaknya area lain masih terbuka untuk dikunjungi. Sip!

Jujur, Tamansari terlihat sangat impresif. Kami merasa seperti menaiki mesin waktu ke zaman dimana orang-orang masih menaiki elang Indosiar, dan cewek-cewek berkelahi menggunakan selendang. Konstruksi batu masih terasa kokoh, dan suasana sore hari yang rindang membuat istana seakan sedang dalam masa istirahat, dimana orang-orang berbaring terkantuk-kantuk.

img_7786
Mahluk diatas pintu agak terlihat seperti Doraemon.
img_7780
Atap gerbang. Ukirannya dahsyat!

Eksplorasi berlanjut dan memasuki kawasan-kawasan lain, seperti tempat masak, koridor-koridor sempit dan beberapa lokasi yang kami kurang tahu fungsinya. Semuanya bersih, terawat, dan kurang lebih masih utuh. Beberapa spot nampak ditopang oleh penyangga besi agar konstruksi tidak terganggu.

dscf5928
Belakangnya ternyata ditopang oleh besi-besi penyangga. Cukup efektif sepertinya.
komppilasi
Stone is love, stone is life.
goblok
Area ini sangat-sangat menarik untuk membuat foto action. Maafkan kami yang norak.
dscf5957
Sumpah ini seru banget.
waw
Rindang dan tentram

Tentunya, kami tidak ingin pulang tanpa benar-benar melihat kolam pemandiannya. Maka kami melakukan satu-satunya cara yang mungkin, yaitu mengintip melalui rumah penduduk. Salah seorang penduduk dengan baik hati mempersilahkan kami naik ke loteng rumahnya untuk melihat kolam legendaris itu.

dscf5982
Terlihat seperti Dorne dari serial Game of Thrones.
fanstagram_170119_0006
Inem ketiduran nungguin nasi mateng

Menjelang sore, kami memutuskan untuk menyudahi petualangan di Tamansari, dan beranjak ke peradaban modern. Langit juga semakin mendung, dan kami tidak ingin diguyur hujan. Setelah memanggil Grab Car, kami meluncur ke titik berikutnya: Prawirotaman.

Prawirotaman adalah spot yang unik: sebuah jalan panjang yang sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh bar, restoran, kafe, tempat nongkrong, dan hotel yang hip. Suasanya mirip sekali dengan Bali. Gue enggak pernah ke Bali. Yang bilang kalau Prawirotaman itu suasananya mirip Bali adalah Fanny. Gue iya-iya aja deh.

Berjam-jam menikmati seni dan sejarah membuat perut lapar. Fanny mengusulkan Via Via Cafe, dan kami duduk disana sembari mengisi ulang baterai smartphone dan perut. Via Via Cafe adalah tempat makan yang menarik. Tempat ini adalah travelller’s cafe, gabungan cafe dan guesthouse yang sering disinggahi oleh turis-turis luar, karena menawarkan informasi, event, dan toko souvenir. Bisa dibilang, turis yang tinggal disana akan mendapatkan segala yang mereka ingin ketahui dan kunjungi tentang Jogjakarta. Plus, mereka punya live music yang keren di cafe-nya. Cukup aneh juga sih menjadi minoritas di cafe ini, karena kebanyakan pengunjung adalah orang asing.

img_5158
Suasana cafe, ga sempat foto dengan kamera sendiri karena sedang di-charge. Source
img_5125
Mading yang isinya informasi trip seru di Jogja. Bukan foto gue, baterai lagi di-charge. Source
dscf5998
Tapi ehem, masih sempet deh untuk ngambil foto makanan yang gue pesan. Beef Stew mereka enak pake banget! Very recommended!

Too bad, we exhausted all our camera batteries in Tamansari. Konsekuensinya, kami jadi enggak bisa ambil foto di Via Via dan Prawirotaman. Setelah makan dan mendengarkan live music, kami jalan-jalan di sekitar Prawirotaman untuk meluruskan kaki membiarkan makanan “turun”. Niat ini agak buyar karena mata kami tertuju pada sebuah gellateria yang hip banget bernama Il Tempo del Gelato.

Gue sangat merekomendasikan Il Tempo del Gelato. Gelato buatan mereka segar, enak, dan yang terpenting: sangat terjangkau. Di Jakarta, satu cone mungkin harganya bisa diatas 30 ribu. Disini harganya 25 ribu. Oh Mamma Mia! Fanny dan gue masing-masing memesan satu cone. Ignas tidak memesan sama sekali karena dia tidak menyukai kenikmatan hidup. Evan pasti suka kalau saja tidak sakit tipes dan membatalkan perjalanannya.

photo0jpg
Again, bukan foto gue. Kalo gue pasti kuteksnya warna merah. Source
cover-il-tempo-1024x683
Eksteriornya cukup keren! Source

ArtJog, Tamansari, Prawirotaman. Tiga tujuan ini menyudahi petualangan kami hari ini. Kami pulang dengan Grab Car, dan nasib mempertemukan kami dengan seorang driver bernama Pak Edi, seorang vagabond sejati dari Toba. Pak Edi menjadi bagian dari perjalanan ini yang tidak akan pernah kami lupakan.

img_8328
The man, the myth, the legend.

But that’s a story for another time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s