Jogja 2016: Dari Tugu Hingga Seturan (Part 1)

Tahun 2016 meninggalkan beberapa momen yang menjadi tonggak dalam sejarah hidup gue, misalnya untuk pertama kalinya gue menjadi finalis Citra Pariwara. Sulit dipercaya, melihat nama Cuatrodia Creative berdiri diantara nama besar agency lain. Walau begitu, rasa bangga yang sesungguhnya adalah karena puisi yang gue tulis menjadi bagian dari karya yang mendapatkan posisi finalis itu.

Selain itu, 2016 juga menjadi tahun dimana kantor gue mulai menempuh jalan panjang untuk menjadi sebuah studio kreatif yang well-established. Tidak mudah, banyak yang harus dibenahi, namun perlahan kami melihat ke depan.

Bedanya, entry kali ini bukan mengenai perjalanan karir. Justru sebaliknya, ini adalah entry mengenai leyeh-leyeh. Sesungguhnya wajib bagi setiap orang, terutama yang mengaku kreatif, untuk sewaktu-waktu melihat dunia luar dan sekitarnya. Jangan kerja melulu, jalan-jalan sedikit lah. Supaya kapak yang kau ayunkan itu tidak tumpul. Maka ajakan untuk jalan-jalan pun gue sanggupi, ketika beberapa teman dekat menawarkannya.

200_s
Penggambaran akurat

Sebelum kita mulai, mari gue perkenalkan siapa-siapa saja mereka:

profil
Evan, you cheeky dumbass.

Sebuah pertemuan di Suwe Ora Jamu pada malam hari akhirnya menentukan tujuan kami: Jogjakarta. Karena Ignas menjamin akomodasi gratis, kami semua yang adalah kaum aji mumpung langsung setuju. Fanny mulai menulis rencana perjalanan, Ignas bercerita tentang “keramahan khas Jawa” yang akan menyambut kami, dan gue memesan satu lagi es teh manis sambil mengintai nasi goreng kecombrang pesanan Fanny yang sepertinya tidak akan dihabiskan.

foto bareng.jpg
Perhatikan mata gue. Tatapan gue terarah pada nasi goreng kecombrang yang sedang diantarkan oleh waiter. Evan tidak ikut karena sedang di Bekasi.
Beberapa minggu kemudian

Gue, Fanny, dan Ignas berkumpul di stasiun kereta api dan memulai perjalanan kami. Kami sepakat bahwa perjalanan kereta api akan menjadi awal yang baik, because trains are cool yo. Evan mengabarkan bahwa ia kena tipes dan membatalkan keikutsertaannya. Cupu.

Perjalanan di kereta sangat menyenangkan! Pemandangan di luar menakjubkan, dari kota hingga pedesaan berlalu dengan cepat seperti serial TV yang kamu tonton di Netflix. Untuk menemani perjalanan, gue bawa novel Crime And Punishment karangan Fyodor Dostoevsky. Bukan pilihan tepat karena temanya cukup bikin depresi, berbanding terbalik dengan mood perjalanan ini. Seharusnya gue bawa buku Hans Christian Andersen, atau Enid Blyton.

*Out of topic* Kenapa ya cerita-cerita Enid Blyton tidak pernah difilmkan oleh Hollywood? Padahal Lima Sekawan itu keren banget.

img_7641

img_7651
Jendela kereta terasa seperti frame film, menangkap apapun yang terlintas di depan lensa.
img_20160616_122631
Tempat makan di kereta

Enam jam berlalu, dan kami tiba di Jogjakarta! Rasanya sangat menyenangkan, tiba di sebuah tempat baru yang belum pernah lo kunjungi. Ini pertama kali gue ke Jogjakarta, dan momen spesial ini disambut dengan….. Indomaret dan Alfamart. Dua sejoli itu memang ada dimana-mana yah. Momen spesial itu menjadi agak sirna sedikit karena gue tiba-tiba teringat lagi dengan Jakarta. Anyways, move on.

Kondisi sudah sore, dan kami naik Grab Car ke tempat persinggahan kami yang pertama. Rumah itu adalah tempat tinggal salah satu kerabat keluarga Ignas. Setelah mengucapkan salam dan meletakkan barang-barang, petualangan dimulai. Pertama, makan dulu!

Kami menuju alun-alun dan menikmati  Mi Pele, mi godog yang berada di dekat beringin kembar yang legendaris itu. Kami masing-masing memesan semangkuk, dan makan bersama dengan syahdu, seakan ingin meresapi atmosfer kota Jogja. Baru hari pertama, dibawa santai saja. Lumayan enak, dan merakyat.

img_7677
Disini Ignas tidak terlihat seperti John Legend, ia lebih terlihat seperti Ronal Surapradja

Serunya adalah, pengamen di Jogja itu lebih punya skill dan lebih sopan. Kami makan diiringi lagu-lagu 90s seperti Ronan Keating. Lagu “When You Say Nothing At All” mengalun dari mulut si pengamen yang sayangnya kurang memperhatikan mimik muka sendiri. Lirik lagu yang romantis itu tidak seimbang dengan wajahnya yang datar dan serius seperti mahasiswa sedang sidang. Mungkin inilah yang disebut paradoks.

Hal lain yang tak kalah seru adalah kehadiran seorang pesulap jalanan, atau street magician, demikian si pesulap ngotot menyebut dirinya. Awal-awalnya ia mengeluarkan trik standar, memasukkan koin ke dalam botol air mineral tanpa membuka tutup. Ah, biasa. Tapi setelah ia mengeluarkan trik kartu yang mengubah seisi deck kartu menjadi sama semua, gue dan teman-teman cukup terpana. “What the fuck” demikian gue berucap dengan lembut, sembari menelan mie.

dscf5596
Street magician yang sedang bersiap mau mengeluarkan trik pamungkas. Gue enggak tahu namanya, jadi gue sebut saja dia Yoshiki.

Setelah memberikan uang kepada Yoshiki (apakah itu sukarela? Sepertinya enggak, tapi kenapa rasanya sukarela? Apakah gue kena gendam?) kami membayar makanan dan mencoba peruntungan untuk melakukan kegiatan yang terkenal itu: berjalan melalui beringin kembar di alun-alun. Fanny mencobanya dan gagal. Gue tidak mencoba, karena sebagai jomblo perak gue ga butuh konfirmasi mistis mengenai status gue ini. So, no thank you. Lagipula, malam-malam begini kedua beringin itu terasa angker sekali.

So on we go, dan apa yang lebih baik dari jalan kaki di malam hari setelah makan? Jalan kaki bareng pacar di malam hari setelah makan. Tapi karena gue lagi sama teman-teman, maka itulah yang kami lakukan. Kami berjalan dari Malioboro hingga ke Tugu Jogja, melihat-liha banyak hal menarik yang berlangsung.

adada
Hari pertama sangat menyenangkan!

Kami betah nongkrong cukup lama disana, dan ketika mata mulai agak berat disebabkan oleh letih perjalanan, kopi pun menjadi pilihan. Kami singgah sejenak di sebuah coffee shop (dan menyesal karena overpriced dan tidak enak), dan meneruskan perjalanan hingga ke Tugu. Semuanya jalan kaki, tanpa naik kendaraan apapun, karena ingin merasakan betul-betul Jogjakarta.

Justru ketika sampai di tugu kami menemukan spot ngopi yang mantap jiwa. Sebuah gerobak kecil nongkrong di emperan, dan menawarkan kopi-kopi enak. Bukan kopi sachetan yang pasti akan membuat bulu kuduk coffee snobs berdiri sambil mendesis seperti kucing ngamuk. Kopi-kopi mereka bagus, dan bahkan punya mesin sendiri. Best part? Kopinya sangat terjangkau, di bawah 10 ribu rupiah.

dscf5722
Wujud gerobak kopi dengan dua tamu yang sedang menunggu. Ayo follow @kolingjogja untuk kopi enak dan terjangkau!
dscf5669
Yang satu gaya minumnya seperti model rokok Gudang Garam. Yang satu lagi kayak engkoh-engkoh lagi minum liang teh.
dscf5692
“Muka mesumnya manaaaaaaaa”
dscf5674
Setelah itu cekikikan. Dasar.
dscf5687
Perbincangan warung kopi.

Makan malam, sudah. Ngopi, sudah. Sekarang saatnya duduk-duduk di emperan dan menikmati udara sejuk. Niat hati sempat muncul untuk mencoba angkringan, tapi diurungkan karena perut sudah terlanjur kenyang. Akhirnya kami duduk-duduk saja, sekedar berbicara ataupun menikmati hingar bingar yang pelan-pelan sirna, masuk selimut. Jogja memang bukan Jakarta yang tidak pernah tidur.

dscf5735
Ignas menunaikan tugas sebagai seorang kekasih: lapor ke pacar minimal 1×24 jam. Ketika mengambil foto ini, perhatian Calvin langsung teralih ke penjaja jagung bakar.

Demikian akhir dari hari pertama.

Bohong, deh. Awalnya kami mengira begitu. Ingat poin di paragraf diatas mengenai Jogja yang tidak sama dengan Jakarta? Benar sekali. Pukul 1 dini hari, semua kenikmatan masa kini yang bernama Grab Car, Go Car, Uber, dan teman-teman lainnya sudah tidak terlihat sama sekali. Sepertinya semua driver sudah tidur. Kami pun secara bersamaan bergumam “Anjeeeeeng”.

Tidak punya pilihan lain, kami mencoba berjalan kaki sambil  memantau kondisi. Siapa tahu ada becak atau taksi yang lewat. Beberapa puluh meter berubah menjadi beberapa ratus meter. Beberapa ratus meter berubah menjadi beberapa ribu meter. Jogja pada dini hari, dengan sudut yang temaram tersinari lampu jalanan seakan menyihir kami. Kami menjadi enggan berhenti berjalan, dan memutuskan untuk jalan kaki sampai ke rumah kerabat Ignas. Istilahnya, sudah kepalang basah ya nyemplung saja.

dscf5748
Salah satu sudut unik di Jogja ketika kami jalan kaki pulang ke rumah.
dscf5756
Stop sejenak.
fanstagram_170119_0002
Salah satu sudut yang cukup menarik untuk diabadikan.

Setelah dipikir-pikir, kami menempuh jarak sejauh 8 kilometer, dari Tugu Jogja sampai Seturan! Pegel, capek, keringetan, tapi senang. Liburan adalah waktu dimana kita melakukan segala sesuatu yang biasanya tidak kita lakukan di hari-hari kita yang penuh rutinitas. Ketika berlibur kita bisa melakukan sesuatu yang biasanya kita anggap buang waktu dan tenaga. Ketika berlibur kita bisa melakukan sesuatu yang biasanya akan membuat kita berdehem dan bertanya “untuk apa?” Berlibur adalah waktu ketika kita menjawab segala pertanyaan itu dengan “kenapa enggak?”

Hari pertama kami di Jogja berakhir dengan baik. Kita belum sampai ke cerita-cerita lain yang jauh lebih menarik. Untuk saat ini, gue mau mengistirahatkan jemari dahulu.

img_7705
Jangan lupa makan ya!

Baca kelanjutannya di Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s