Sebuah Harga Yang Dibayar

Hujan muncul dan berlalu di tengah malam, keras dan deras, lalu berhenti. Mirip tukang parkir dengan priwitan nyaring yang muncul entah dari mana, dan lenyap begitu duit dua ribu rupiah hinggap di tangannya (seribu rupiah? jangan harap mau diterima). Indera-indera yang selama ini terasah menjadi tumpul setelah 30 jam lebih tidak istirahat.

Lucunya, di tengah deraan pekerjaan yang tidak peduli akan keceriaan tahun baru, senar ingatan memainkan nada yang sudah lama tidak terdengar. Ketika alarm tubuh berbunyi nyaring dan kau abaikan, dering yang lain justru membahana dalam keheningan. Jauh di dalam sudut pikiran, seperti sebuah majalah tua yang berdebu yang tiba-tiba menarik hati ketika kita ingin buang air dan smartphone sedang mati.

Bahwasanya masa sukar akan melahirkan orang-orang kuat. Orang-orang kuat akan mengantarkan masa gemilang. Masa gemilang akan melahirkan orang-orang lemah. Orang-orang lemah akan mengantarkan masa sukar.

Sempat gue baca ini entah dimana, dan ditemukan lagi entah dimana pula, kemudian mengendap dalam laci ingatan. Tertumpuk dalam berkas ingatan-ingatan lain. Mungkin ketika otak ini sedang kacau, tumpukan ingatan yang tersusun rapi itu terbolak-balik dan memunculkan kalimat itu kembali.

7717020aefc602f74a719f6a54bcfd57_pile-of-books-picture-of-a-pile-of-books_500-305
Di tumpukan ingatan teratas: lirik jingle Sari Roti, lirik lagu PPAP, sumpah The Night’s Watch, nomor pesan antar KFC.

Relevan pula dengan segala hal yang terjadi, dan segala hal yang ada. Sejarah manusia membuktikan bahwa kesukaran dan marabahaya membuat orang-orang lebih awas, lebih giat, lebih berusaha. Terobosan pun muncul dan terlahir dari hasrat untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

Bola lampu diciptakan karena manusia menginginkan malam hari yang terang, ingin mengakhiri kegelapan yang mengurung gerak-gerik mereka. Cahaya lilin terlalu temaram, terlalu menuntut perhatian untuk  menjaganya agar tidak padam.

Bangsa-bangsa pejuang dan gagah perkasa cenderung lahir dari daerah-daerah tandus. Mereka harus kuat, harus berani, karena sulit untuk mendapatkan makanan dan hidup yang layak. Pilihan mereka adalah bertarung, berburu, berperang.

Pemikiran-pemikiran besar dan radikal yang mengubah dunia pun muncul karena ada bentuk ketidakpuasan terhadap sistem yang bercokol dan tidak adil. Revolusi terjadi karena ada ketidakadilan. Paham baru menjadi antitesis dari paham sebelumnya yang dirasa tidak cukup baik, tidak cukup mengayomi kebutuhan orang kebanyakan.

Di alam sendiri, evolusi tersenyum kepada spesies yang sanggup beradaptasi, dari generasi ke generasi menyesuaikan fisiologi tubuhnya agar sesuai dengan kondisi lingkungan yang semakin tidak kondusif terhadap cara hidup mereka. Jika mau hidup, berubah. Jika stagnan, maka maut yang kau undang.

Rasanya seakan pemikiran diatas adalah sebuah justifikasi untuk kondisi yang sedang terjadi. Sah-sah saja, mungkin itu salah satu coping mechanism untuk suasana tidak nyaman seperti membanting tulang menghadapi deadline. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang ketidaknyamanan adalah pemicu kemajuan.

Ketidaknyamanan akan sebuah situasi membuat manusia mencari cara untuk memperbaikinya. Revolusi Prancis dan revolusi Amerika adalah dua kasus yang cukup jelas menggambarkan maksud gue (setidaknya demikian tertulis oleh sejarah). Di Indonesia ada reformasi tahun 1998. Ketidakpuasan, ketidakadilan, adalah contoh kondisi tidak nyaman yang akhirnya membuat orang mau tidak mau bertindak untuk mengubah status quo.

Di dunia kreatif sendiri bagaimana? Ada hubungan benci tapi rindu dengan ketidaknyamanan ini. Di kala banyak orang kreatif yang merindukan kehidupan yang “seimbang”, jam kantor yang stabil, tidak lembur, dan lain sebagainya, harus diakui bahwa karya kita tumbuh dan berkembang justru ketika kita bekerja dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak nyaman.

Cobalah sangkal, tapi tidak bisa kau pungkiri secangkir kopi panas di tengah malam terasa begitu nikmat membasahi lambungmu, dan suara klak-klik mouse membentuk duet yang indah dengan cetak-cetik keyboard. Rasa-rasanya nurani dan jiwa memberontak ingin bebas dari kungkungan rutinitas. Kreativitas, sejatinya, muncul ketika ada ketidakseimbangan.

Celaka memang bila kita bekerja di dunia kreatif dan mengharapkan kehidupan profesional yang berimbang dengan kehidupan personal. Seumur hidup kita akan seperti seorang pelakon sirkus yang berjalan di seutas tali. Kreativitas, sejatinya, tumbuh dan berkembang dengan menyerap ketidakseimbangan dalam hidup kita.

Neil deGrasse Tyson setuju dengan hal ini. Menurutnya, work-life balance is overrated. The man himself said that.

“There is the psychological discomfort knowing you should be doing something else. And we presume that balance is a good thing,” deGrasse Tyson said, adding that there was never a time when he was studying that he wouldn’t rather be on the mat, and vice versa. “When something is out of balance you can get quite innovative in your attempts to resolve that fact.”

“Ada ketidaknyamanan psikologikal ketika mengetahui bahwa kita seharusnya melakukan hal lain. Dan kita merasa bahwa keseimbangan itu baik” demikian ungkap deGrasse Tyson, menambahkan bahwa tidak pernah ada waktu ketika dia sedang belajar dan dia berharap dia sedang tidur, begitu sebaliknya. “Ketika sesuatu sedang tidak seimbang, kamu bisa menciptakan inovasi untuk menyelesaikan masalah itu.”

Berapa orang pujangga, pelukis, pematung yang memiliki karya besar, yang memiliki hidup yang “seimbang”? Pelukis favorit gue, Vincent van Gogh, hidupnya jauh dari kata “seimbang”, tragis malah. Gue enggak bilang bahwa kita harus menjadi seperti mereka, namun seperti yang kita lihat di film Whiplash, sebuah talenta meminta tumbal. Tumbal itu adalah kehidupan kita sendiri. Waktu, hubungan sosial, kesenangan, mungkin akan tergerus. Mungkin akan terenggut. Michael Jackson mencapai puncak ketenaran dengan mengorbankan masa kecilnya.

26b44fc1c925289b175bdbf53765ec49
“Kukorbankan semuanya demi bisa pup dengan gaya seperti ini” – Michael Jackson

Sesuatu yang besar, sesuatu yang hebat, membutuhkan pengorbanan. Terasa klise, terasa mudah diucapkan. Dulu gue juga berpikir begitu, sampai akhirnya gue mendirikan sebuah studio motion graphics startup bersama teman gue. Oh boy, how I was wrong. Tidak mudah sama sekali. Awal-awal sempat jiwa ini memberontak, persis seperti kata deGrasse Tyson, “I’d rather be doing something else”. Tapi ketidaknyamanan berdansa bersama kenyataan bahwa gue bukan orang kaya and I got bills to pay dammit  dan mental gue mengeras hari demi hari, menjadi seperti ini.

Pada akhirnya, gue tetap merasa bahwa memang harus ada usaha untuk menciptakan hidup yang seimbang. Hidup itu enggak kerja doang, benar. Benar banget. Tapi itu pilihan lo. If you want to be mediocre, if you are content with that kind of life, then by all means choose that path. If you want to matter, if you are pursuing something, if you have something that you don’t want to lose, then settle for the hard way. The world has seen too many people who want to tread the easy way.

Pada akhirnya, kuncinya hanya satu: situasi apa pun yang muncul, belajarlah untuk menikmatinya. Toh kita tidak punya kuasa untuk membendung arus waktu dan takdir.

Doa yang bisa gue ungkapkan untuk semua yang membaca tulisan ini adalah: semoga kau bisa menemukan alasan untuk tersenyum, menyeka air mata, dan kembali menari, walau hujan badai menerpa. I know it’s hard. I’ve been through my share of storm.

dq00216
It’s not about waiting for the storm to pass. It’s about learning to dance in the rain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s