Martabak Raja: A Food Review

Sesungguhnya membuat blog bukan ide baru buat gue. Sudah sejak tahun 2010 ada keinginan untuk menuliskan pemikiran dan pengalaman sehari-hari ke dunia maya untuk menjadi konsumsi publik. Pada saat itu tidak terpikirkan pesan ataupun penyampaian yang dirasa cocok, sehingga ide itu dibiarkan mengambang.

Semacam resolusi tahun baru di 2017, gue akhirnya menulis blog. Heh. Kata orang memulai itu gampang, melanjutkan itu susah. Jika demikian adanya, kenapa gue sampai sekarang ga bisa berhenti mencintai donat Krispy Kreme dan binge-watching Netflix? Sungguh ungkapan yang ngawur.

Itulah sebabnya, untuk melanjutkan tradisi blogging ini, gue harus membuat entry sesering mungkin agar blog ini tidak tenggelam. Dan entry kali ini adalah:

Review makanan. Waw. Sungguh menakjubkan! Apakah Calvin akan menjadi seorang food blogger? Nay. I am a whatever blogger. I see cool stuff, I blog. Kebetulan saat ini gue baru saja mencoba sebuah makanan, dan gue berpikir: This should go into my blog.

So here it is.

Martabak Raja: A Food Review

Pada suatu hari demam martabak menghinggapi kantor ini, dan gue memutuskan untuk mencoba memesan melalui ojek online. Lebih tepatnya gue meminjem duit temen gue Agi, dan meminta dia untuk memesan satu martabak yang katanya enak banget. Gue emang ga tau malu. Minjem duit orang, dan suruh orang itu untuk pesan. But hey, “Martabak Raja” is a kickass name. Apakah itu berarti “raja semua martabak” atau “martabak khusus untuk raja”? Both are awesome.

Gue pesen yang spesial. You just have to go for the special one from the beginning. It’s about first impression, guys. And no I didn’t order the sweet one because I prefer eggs. Martabak telor wins against martabak manis any day in my book.

And here’s the big moment!

img_0194
Daaan sudah dicomot sana-sini. Sorry, I’m new at this.

Satu box ini seharga 106 ribu rupiah! Awalnya gue kira kemahalan, but actually not bad since isinya banyak dan gede dan martabaknya tebel-tebel! Wow!

Time to dig in! Demi kenyamanan bersama gue tidak menunjukkan wajah gue yang sedang makan.

Selesai mengunyah dan menelan, saya simpulkan bahwa martabak ini sangat “wah”. Isinya standar martabak telor biasa, dengan enhancement berupa sosis, potongan keju, daging ayam, dan jagung! Quite bountiful, I say! Dan penjualnya cukup royal dalam hal isi martabak, layaknya seorang Raja. Azegh.

img_0198
Saya suka yang besar-besar

Well, it does have a weakness though. You see, kalo soal martabak I prefer a classic approach. Dan segala kemewahan ini malah membuat citarasa martabak yang gue suka dan idam-idamkan itu hilang. I will explain.

Pertama, isi martabak seperti jagung, keju, sosis terasa terlalu overpower dan teksturnya menjadi terlalu padat. Terutama keju nih, it’s too strong. Selain itu, saos martabaknya tiba-tiba beda dari yang biasa. Sedikit condong ke arah asam, dan mengingatkan gue akan.. sebuah masakan telur yang mirip.. what’s the name… Ah!!!

Fuyunghai.

Martabak Special Raja is actually Fuyunghai.

tim-and-eric-mind-blown
Cinaisasi terselubung!!!!

Verdict:

It’s too fancy for my taste and somehow it’s no longer the martabak that I love. They changed it too much. Still tasty though. Go try it yourself!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s