Tanyakan Pada Tuhan

Dua hari belakangan ada satu hal yang muncul di dalam pikiran: pengandaian. Gue berandai-andai bila pekerjaan yang saat ini sedang dirundung awan mendung bernama deadline (dengan bunyi petir yang semakin keras mengancam) tidak selesai, apa yang akan terjadi? Andaikan kantor mati listrik saat render sedangkan klien sudah bernapas di tengkukmu, apa yang akan terjadi?

Pengandaian adalah sebuah mesin waktu yang bisa membawamu ke dimensi yang tidak terbatas.

Jadi, dalam kondisi otak yang lumayan kekurangan oksigen ini gue membiarkan pengandaian bebas lepas berkeliaran, seperti anjing golden retriever temen gue si Ignas yang hebohnya luar biasa ketika melihat orang baru.

Here’s the big “What If”.

Bila Tuhan Yang Maha Tahu saat ini mengambil wujud yang bisa kau terima (katakanlah ia berwajah dan bersuara seperti Morgan Freeman, atau Benedict Cumberbatch, atau Tilda Swinton, atau.. Mat Solar. Hey, wujud apapun yang bisa kau terima kan?) tiba-tiba datang padamu, dengan segala kemurahan hati-Nya berkenan duduk ngobrol atau ngopi bersamamu, apa yang akan kau obrolkan dengan Tuhan? Katakanlah kalian berdua lagi nongkrong di sebuah kafe hits di Jakarta Selatan, atau sebuah warung kopi bersahaja di gang dekat sebuah kampus yang overpriced.

freeman-2_1
“Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat..”

Anyway, ini sama sekali bukan tulisan yang berbau religius ya. Ini murni sebuah letupan imajinasi yang menggelitik untuk ditelusuri, seperti anak kecil yang nangis-nangis minta beli es krim ke ibunya di Indomaret. I’m talking about, what if you have a chance to ask God about the things that you are truly, truly curious about?

Think about it.

Think again.

Think a bit more.

Are you sure?

Shoot.

You got the questions?

Now I will share mine.

Pertanyaan #1: Apa standar khusus agar seseorang masuk surga? Kalau masuk neraka mah gampang ya.

Menurut gue ini penting sekali, karena agama di dunia ini ada berbagai macam, dengan berbagai macam syarat dan ketentuan untuk masuk surga (pengertian dan konsep surga disini gue serahkan kepada agama masing-masing) dan masing-masing meng-klaim sebagai satu-satunya pemilik golden ticket ke surga.

proof-god-exists1
AUTOSURGA

Paus Fransiskus dengan indah mengatakan bahwa Tuhan itu satu, tetapi penyembah-Nya menyembah dengan cara yang berbeda. Pertanyaan gue kepada Tuhan adalah, standar apa yang dipakai-Nya dalam menghakimi seorang insan manusia? Tentu kita sadar bahwa konsep keadilan dalam akal budi manusia tidak akan bisa dibandingkan dengan akal budi Tuhan. Apa yang dirasa tidak adil bagi manusia, mungkin adil bagi Tuhan, karena Tuhan memandang sesuatu jauh melebihi siapapun, dengan akal yang tak terhingga. Jadi, apa yang membuat Tuhan memutuskan bahwa si A masuk surga, si B masuk neraka?

Pertanyaan #2: Kenapa pasif sekali?

Ada yang bilang “God works in mysterious ways”, yang terdengar seperti sebuah alasan yang dipilih ketika kamu tidak bisa menemukan pembenaran atas sebuah peristiwa buruk yang terjadi. Sedih, karena kapasitas kita sebagai manusia sangat terbatas. Gue ingin ngebayangin Tuhan sebagai manusia yang sedang memperhatikan sebuah koloni semut di dalam terrarium. Ia memperhatikan dengan seksama, namun tidak akan mengatur 100% tingkah laku para semut satu per satu. Ia berfokus pada big picture. Gue ingin berpikir sepeti itu, karena masuk akal. Namun pemikiran ini dengan mudah disanggah oleh asumsi bahwa Tuhan itu omnipotent. If God is omnipotent, it’s not the matter of whether He could, but whether He would.

So does it mean God is… indifferent about the sufferings of His creations? Are we just some kind of experiment? Bila alasannya adalah “free will”, dimana Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, apa makna kehendak bebas bila Tuhan sudah mengetahui segala keputusan dan tindakanmu sebelum kau pikirkan dan lakukan? I don’t know. I’m just a human. My logic cannot reach that level. Makanya gue pengen nanya langsung.

Pertanyaan #3: Apakah kita sendirian?

Teman gue Kenny pernah menceritakan sebuah teori yang menarik. Bagi dia, sejarah alam semesta itu adalah ibaratnya sebuah penggaris sepanjang 30 cm. Di sepanjang sejarah itu, ada banyak kehidupan dan mahluk hidup. Termasuk kita. Masalahnya adalah, rentang waktu sebuah peradaban sangat singkat bila dibandingkan dengan sejarah alam semesta. Bayangkan bisa usia spesies manusia di Bumi itu hanyalah sepanjang 0,1 cm hingga 2,4 cm. Di ujung galaksi Andromeda ada sebuah planet yang memilik iklim sama dengan Bumi, dan hidup ras alien bertangan enam yang selalu berjalan diagonal dan bersuara “Hye hye hye hye”. Namun sayang, ras alien ini hidup di rentang 5 cm hingga 10 cm (waw cukup panjang ya untuk alien seaneh ini). Akibatnya adalah, berbagai jenis bentuk kehidupan di alam semesta tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu.

Karena itulah gue ingin banget meminta Tuhan mengajak gue ikut tur keliling alam semesta dan melihat berbagai jenis mahluk hidup dan kedahsyatan kosmik yang tidak pernah terjangkau oleh mata manusia manapun.

Pertanyaan #4: Kenapa gue sampai sekarang masih belum punya pac…

Ga jadi. Oke kalau kamu punya pertanyaan apa buat Tuhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s