Review Film Headshot

Hai. Blogging is actually fun, huh? So for this post I will talk about an Indonesian film called “Headshot”. Mungkin udah pada nonton ya? Cukup menjanjikan sih memang, kalau dilihat dari trailernya. Plus, sutradaranya adalah The Mo Brothers (they are not really brothers!?!?! My whole life is a lie!!) yang sudah cukup punya reputasi. Gue sih baru pernah nonton (and by nonton, I mean watched a clip of their film on Youtube) Rumah Dara doang, yang pemerannya adalah cewek yang mukanya kayak kucing itu (still hot though).

Yeah, I can say I am an afficionado of violent movies! But nay, not violence for violence’s sake, but aestheticized violence, like Tarantino! Nah ketika The Raid muncul di layar bioskop, gue termasuk yang ngefans banget dan mulai sok-sokan bergaya seperti ahli beladiri (hanya ketika gue lagi mandi, gue cukup tahu diri kalau penampilan gue lebih mirip engkoh penjual kalkulator di Glodok).

the-raid-2-011
80% dialog mereka adalah “huaw hiat wuah hiay hwuah ciat”

The Raid BLEW MY MIND. Koreografinya keren banget, indah, dan beringas! Saking kagumnya, gue bahkan nonton film itu DUA KALI, dalam SATU HARI YANG SAMA! The Raid sukses melambungkan nama Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, dan Joe Taslim.

tim-and-eric-mind-blown.gif
Penggambaran akurat akan kondisi gue.

Best part of that day adalah gue papasan dengan Joe Taslim ketika gue selesai nonton dan keluar dari bioskop. Dua kali. Yep, you read that right. At the same day. Gue keluar dari bioskop Plaza Indonesia, papasan dengan Joe Taslim. Abis tu gue nonton di Grand Indonesia (sengaja pilih bioskop berbeda agar ga berkesan norak). Kelar nonton, papasan lagi sama Joe Taslim. Sepertinya dia sedang mengecek apakah ada yang nonton filmnya. Tenang, koh Joe. Banyak yang nonton. Banyak. You’ve gone a long way since the days of Vitacharm.

Intinya, gue punya harapan banyak sama Headshot. Another bloody film with brutal fights!

Firstly, it’s Iko Uwais. Jadi jangan harap ini bakal kayak Ayat Ayat Cinta. Mungkin lebih tepatnya Ayat Ayat Ciaaaat. Lame, I know. I know. Sorry. This guy is now a household name for martial art movies! Mungkin Indonesia akan punya Jet Li atau Jackie Chan sendiri! Woohoo!

Secondly, Chelsea Islan. If this adorable cupcake doesn’t immediately make you fall in love (despite your gender), then nothing will. I have never adored a celebrity more than her. She is so pretty and awesome and cute and no I am not obsessive please don’t give me a restraining order.

chelsea-islan-1
Ini ekspresi Chelsea Islan ketika ngeden. She just can’t, and will never look ugly.

Why.. that’s the point. Even Chelsea Islan can’t help this movie. Padahal pas adegan pertama kali Chelsea Islan muncul, separuh bioskop mengeluarkan suara “awwww…” dan terdengar tarikan napas panjang dan dalam.

Iya, saya termasuk diantara mereka.

And it’s… downhill after that. I don’t usually review movies, so I’ll just make some points. Eh ini pendapat gue pribadi ya. Kalo lo ga setuju silahkan jabarkan poin-poin lo di kolom komentar, dan kita ngobrol!

1. Tema amnesia dan tokoh utama yang penuh konflik dan mencari jati diri ini sangat bagus, tapi tidak dikembangkan dengan cukup baik. Self discovery dari karakter Ishmael/Abdi minim sekali. It should’ve been poignant. It should’ve made a huge shock pas dia sadar dia itu siapa. But no, instead kita disuguhin adegan gedebak-gedebuk ga bermakna yang malah membuat hubungan dia dengan karakter-karakter di masa lalu dia jadi murah.

2. Masih soal amnesia, build-up karakter Ishmael/Abdi dan hubungannya dengan Ailin sangat kurang. Tidak ada yang istimewa dari Ailin yang menemukan Ishmael/Abdi ngapung dan usahanya untuk ngerawat Ishmael/Abdi. Too smooth, dan hubungan mereka berdua terlalu dipaksakan. Ailin seems like a pure little angel yang entah kenapa tau2 peduli aja sama si Ishmael/Abdi. Tidak cukup banyak interaksi bermakna diantara keduanya yang bisa membuat penonton merasa nyaman ketika mereka berdua berpelukan pertama kalinya. It feels.. weird. There aren’t enough moments yang membuat mereka bonding. Penonton seakan disuruh maklum “Ya kan dia uda ditolong, balas budi dong..”

3. Maaaasih soal amnesia, momen-momen ketika Ishmael ingat semua masa lalu dia juga terasa janggal. Gue ga bisa sepenuhnya ngerti kapan dia mulai kenal dengan orang-orang yang dulu menjadi cliquenya (ceilah “clique”, sok banget bahasa lo). Ketika ketemu Besi (omg who the hell is called “Besi) aneh bener, tau2 udah saling ngerti aja. Begitu juga dengan Rika. Karakter-karakter seperti Rika dan Besi juga enggak dijelaskan apakah mereka ngeh kalau Ishmael/Abdi itu lupa ingatan atau cuma membelot. Nah more on that later. Tidak ada batasan jelas antara momen ketika dia udah ingat sepenuhnya dan ketika ingatan itu masih kabur. Sebagai exposition, kita cuma dikasih tahu ketika Ishmael/Abdi nelpon Lee dan cerita “gue inget semuanya”. Cheap.

4. Gue berharap banget ada drama yang bittersweet ketika Ishmael/Abdi dan Ailin ketemu lagi dengan kondisi Ailin udah tahu siapa pasiennya, dan pasiennya udah ngerti bener. Tapi yang gue dapet malah dialog yang oh my God receh banget. “Aku butuh kamu selamatin aku sekali lagi” HOLY SHIT DUDE. Mas-mas yang duduk sebelah gue aja minumannya ampe muncrat saking recehnya ini dialog. I mean, come on!! You can make their reunion very gut-wrenching! Mereka bisa saja saling care tapi akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing, atau gimana kek, Ailin akhirnya sadar bahwa sekarang Ishmael/Abdi is a totally different person and learns to forgive and love him. But you haaaave to make the dude SHAMELESSLY ask for breadcrumbs! I might be nitpicking here, tapi gue tetep mikir kalo pertemuan mereka akan jauh lebih bermakna ketika Ishmael/Abdi menyerahkan pilihan itu kepada Ailin, instead of memohon-mohon.

5. Character development untuk villains di film ini NOL BESAR. We got a pretty badass intro of Lee. Then, NONE. Dia ngapain, dia hebatnya apa? NONE. Cuma ordering people around, dengan legenda yang disebut lewat omongan orang dan flashback. Dude practically did nothing except sitting down and looking scary. That’s why the final fight at the end seems out of place. It’s epic, yes, but there is no setup whatsoever about this guy’s martial arts prowess dan tau-tau dia kung fu master. Absurd.

6. Karakter-karakter sampingan macam Tejo, Tano, Besi (ngakak) dan Rika juga aduh cemen. Ga ada istimewanya. They make no sense! Probably because of the result of brainwashing, but hubungan mereka dengan Ishmael/Abdi kurang banget, dan kekecewaan Besi dan Rika terhadap Ishmael/Abdi enggak kuat sama sekali. Instead of bikin adegan yang membahas masa lalu Besi dan Rika dengan Ishmael/Abdi yang seharusnya punya hubungan lebih kental, kita malah disuguhin adegan kobam bareng Tejo dan Tano. Meh. Belum lagi dialog dengan Besi yang menunjukkan Besi itu guoblok banget “Ini takdir gue” Ya elah men, standar bener.

7. That last fight with Rika. She got properly smacked in the head that even the camera slows down to show a gratuitous shot of her… Assets. Trus dia duduk macem gak luka gitu dan malah ngobrol nostalgia bareng Ishmael/Abdi. I literally muttered “what the fuck” under my breath. The dude and his girlfriend sitting beside me heard it and laughed their asses off. I suppose they thought the same.

headshot_06
“Rika, untuk ke sekian kalinya. Balikin kolor gue.”

8. Menurut gue ini dosa paling besar. This movie is about someone who loses his memory and tries to be a decent man, despite his dark past. And the filmmaker decided to PISS IT ALL OVER by saying that Ishmael/Abdi is a police mole deep undercover in the organization. Like seriously what the hell dude! Jangan gitu dong! Sekarang potensi cerita yang kuat dan plot soal masa lalu dan penyesalan dia akan apa yang udah dia lakuin itu jadi MURAH BANGET MEN. Enggak banget. Apalagi momen ini diceritakan sama cameo polisi yang dengan santainya mengucapkan “saya berdiri aja, katanya lebih sehat berdiri”. Anjeeeeeng, gue tau bikin skrip film itu susah. Tapi ga gini men.

9. Ini mungkin remeh sih, tapi gue merasa Ishmael/Abdi ini semacam cenayang. Ketika dia nyerang markas Lee, dia dengan luar biasa bisa nebak kalo Ailin lagi sembunyi dibalik tembok dan dengan macho bilang, “Ailin, ini aku” Yak, pada momen itu gue sama kagetnya dengan Chelsea Islan.

10. Kemunculan Teuku Rifnu Wikana sebagai polisi skeptis berpotensi menghadirkan side character yang bisa berfungsi sebagai perwakilan dari audiens dan alternatif yang lebih segar biar ga brantem mulu, tapi NOPE. Shanked. Dead.

11. Pak Romli dengan gagah dan selawnya mengucapkan “Santai kau dek” ketika ditembak di perut. Point blank.Holy shit he’s the most badass character in the movie.

12. Itu adik kecil yang diselamatkan Ailin sama sekali ga ada penting-pentingnya. Cuma berfungsi sebagai walking plot device untuk menunjukkan kesucian hati Ailin. Atau sebagai tutorial stage untuk menunjukkan cara menggunakan AK-47? Apakah gadis kecil ini pemain Point Blank? Apakah dia membisikkan “Cyka Blyat, Rush B” ke kuping Ailin sebelum Ailin menghadiahkan timah panas ke si calon pemerkosa?

13. Momen ketika Ailin narik badan Ishmael/Abdi biar ga diajak masuk neraka bareng Lee itu OH GOD maksaaaaaaaaaaaa abiiiiiiiiiiiiis symbolismnyaaaaaaaaa YA TUHANNNNNN.

headshot-tiff
WHY DO ALL OUR FIGHTS LOOK THE SAAAAAAAAAAAME?!?!?!

14. Koreografi di film ini menurut gue terasa kurang membekas, aksi-aksi berantemnya terkesan forgettable. Tidak ada gerakan-gerakan menawan seperti di The Raid, atau kombo super awesome di The Raid 2. Setiap adegan berantem terasa mirip. Tetap keren, tetap dahsyat, but it feels bland, somehow.

15. Ada sebuah adegan flashback dimana Abdi/Ishmael berantem dengan seorang pria gondrong berkemeja putih yang agak mirip AA Gatot abis minum whey protein dua galon. ITU SIAPA WOY.

Ya, sekian. Intinya, kalo mau nonton film yang temanya mirip-mirip, go watch Bourne Ultimatum. “Wah kebagusan vin! Sadis banget lo bandinginnya!!!” Ya udah ya udah, ada yang lebih cocok mungkin. Nonton deh film Wuxia, yang main Donnie Yen. Ga pake amnesia sih, tapi temanya mirip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s