Meeting Star Wars: Rogue One (Sebuah Imajinasi)

Film terakhir yang gue tonton di 2016 adalah Star Wars: Rogue One.Ya, ya, filmnya bagus. Tapi sebelum gue membahas tentang film itu, gue tergelitik untuk menulis sebuah skenario. Kira-kira apa yang terjadi di meeting perdana project film itu antara pihak studio dan sutradara ya?

Mungkin begini.

Suatu hari di markas besar organisasi supervillain bernama Disney, seorang sutradara masuk ke ruang meeting yang dipenuhi oleh petinggi studio dan elit dunia entertainment.

“Silahkan duduk Mr Gareth Edwards” kata seorang eksekutif studio.

Si sutradara tersenyum agak nervous dan duduk, lalu meneguk air yang disediakan di meja. Brengsek, pikirnya. Studio sebesar ini tapi cuma nyediain air putih doang. Merknya Amidis pula.

Seorang pria di ujung meja konferensi berdehem, lalu mulai berbicara. “E jadi gini Mr Edwards, terima kasih sudah hadir di meeting hari ini. Kita ingin membahas soal project baru kita yaitu Star Wars: Rogue One. Ini salah satu dari antologi franchise Star Wars yang akan kita peras abis-abisan sampai akhir zaman. Rencananya tiap tahun akan ada satu film Star Wars. Kita akan mulai dengan project perdana yaitu Rogue One ini.”

Seorang wanita dengan semangat memotong pembicaraan, “Jadi ya Mr Edwards, di kesempatan yang berharga dan pastinya akan sangat bagus buat exposure Anda sebagai sutradara, we hope you can aim… for the stars.”

Seisi ruangan menatap si wanita ini dengan pandangan kzl.

“Sorry sorry, lame pun hehe. Hehe. Come on, don’t be so tense.. We’re not at… war.” si wanita dengan kurang bijak bersuara kembali.

Setelah sekuriti dipanggil dan si wanita dikeluarkan dari ruangan, meeting dilanjutkan. Gareth Edwards akhirnya mendengarkan brief dari studio mengenai cerita singkat yang sudah sempat di develop, dan ekspektasi studio terhadap film ini.

“Perlu dipahami juga ya bahwa salah satu goal dari project ini adalah kita bisa membungkam mulut-mulut nyinyir yang bilang kalau Death Star itu cupu banget, cuma ditembak sekali langsung meledak. Puluhan tahun kita dihantui oleh pertanyaan ini dan kita ingin menemukan cara ngeles yang elegan.” seorand petinggi studio menyuarakan pendapatnya sambil melap keringat yang mengalir dari kepalanya yang botak. Agak mirip Death Star.

Gareth Edwards menggeser posisi duduknya, terlihat tidak nyaman. Belum juga mulai udah dituntut ini-itu, pikirnya.

“Jadi eee gini Mr Edwards ga usah kuatir, saya rasa ini ga akan seberat episode VII ya, yang menanggung pressure merevitalisasikan franchise ini. Kita sempat bercanda sama Mr JJ Abrams kalo sampai episode VII jelek, kita bakal panggil dia Jar Jar Abrams hehehehehehe” demikian kata seorang petinggi studio sambil melirik ke kiri kanan.

Tidak ada yang ketawa. Hening beberapa detik.

“Mr Edwards mungkin ada pertanyaan?” seorang eksekutif studio memecah kesunyian.

Gareth Edwards membuka-buka lembaran hands-out meeting dan berpikir keras, lalu berkata “Apakah ini ada rencana bakal dibikin trilogi?”

“Oh tidak Mr Edwards, ini satu cerita aja yang akan mengantar ke Episode IV. Kita minta masukan juga sih, karakter-karakternya mau diapain. Kan mereka ga disebut-sebut sama sekali di Episode IV. Mr Edwards ada saran?”

Gareth Edwards tersenyum tipis. Jemarinya mengetuk meja dengan pelan. Agak terdengar seperti lagu The Imperial March “Sepertinya saya ada ide. Kalian… ada yang pernah nonton Game of Thrones ga?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s